Sejarah Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga

Empat tahun lamanya UIN Sunan Kalijaga tidak memiliki masjid kampus, setelah bangunan masjid lama rusak akibat gempa dahsyat yang mengguncang Yogyakarta 27 Mei 2006 silam. Selama itu pula, kegiatan ibadah salat berjamaah di kampus UIN Sunan Kalijaga sementara menggunakan salah satu ruangan di Gedung Multipurpose.

Penantian panjang untuk kembali memiliki masjid kampus akhirnya terwudud Kamis (5/8). Tepat hari itu, Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah bersama Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto meresmikan penggunaan Laboratorium Agama/Masjid Kampus UIN Sunan Kalijaga sebagai pusat aktivitas ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya.

Jika menilik ke belakang, dalam master plan pengembangan dan pembangunan kampus UIN Sunan Kalijaga memang tidak dimasukkan rencana pembangunan masjid. Dalam grand design pembangunan kampus yang didanai pemerintah lewat Islamic Development Bank (IDB), hanya gedung-gedung perkuliahan dan perkantoran yang akan dibangun. Adapun bangunan masjid lama tetap dipertahankan dan dilestarikan, di samping karena secara fisik masih layak, juga sebagai simbol kontinuitas masa lalu, masa kini, dan masa datang.

Namun, Tuhan rupanya memiliki rencana lain. Tim ahli independen ITB, UGM, dan UNAIR, yang melakukan assessment bangunan masjid lama pascagempa, menilai bangunan tersebut sudah tidak layak dan tidak bisa digunakan lagi karena mengalami kerusakan fatal. Itulah sebabnya, sejak tahun 2007-2009, UIN Sunan Kalijaga mulai merintis bangunan masjid baru, bukan dari dana IDB, namun dengan bantuan pemerintah melalui APBN selama tiga tahun berturut-turut.

Pembangunan masjid baru sekaligus dijadikan momentum untuk tidak sekadar memperbarui bangunan fisik, tetapi juga dengan konsep, desain, dan manajemen yang baru pula. Itulah alasan masjid yang baru ini disebut dengan Laboratorium Agama UIN Sunan Kalijaga.

Laboratorium Agama

Nama Laboratorium Agama/Masjid UIN Sunan Kalijaga memang sempat menimbulkan penasaran dan bahkan pertanyaan banyak orang yang mendengarnya. Apa maksud istilah itu? Masjid kok diberi nama laboratorium agama? Begitu pertanyaan yang mengemuka pada acara tersebut. Tak kurang Staf Ahli Menteri Agama Bidang Pemikiran dan Paham Keagamaan, Drs. H. Ahmed Mahfudz, M.PA, yang menghadiri acara peresmian mewakili Menteri Agama RI, juga sempat menanyakan hal serupa.

Pertanyaan itu akhirnya terjawab dalam sambutan Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah. Rektor menuturkan ada 3 fungsi dasar service center Laboratorium Agama/Masjid UIN Sunan Kalijaga. Pertama, sebagai pusat kegiatan ibadah dan keislaman, baik berupa dakwah, kajian, pelatihan, maupun layanan publik dalam bidang keislaman di lingkungan UIN Sunan Kalijaga.

Kedua, sebagai pusat pengembangan dan kajian Core Values UIN Sunan Kalijaga, khususnya integrasi-interkoneksi keilmuan umum dan keislaman yang bermuatan nilai-nilai dedikatif-inovatif, inklusif, dan continuous improvement.

“Fungsi ketiga, sebagai pusat syiar UIN Sunan Kalijaga dalam bidang keislaman dan sosial kemasyarakatan guna meningkatkan distinctive competitiveness value institusi yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat,” terangnya.

Amin menambahkan, Laboratorium Agama/ Masjid UIN Sunan Kalijaga memiliki tiga konsep arsitektur yang menjadi ciri utamanya, yaitu Islamicity, Locality, dan Modernity. Aspek Islamicity ditonjolkan dengan bentuk bangunan yang menghadap kiblat, ditambah dengan hiasan kaligrafi Arab dalam berbagai jenisnya, seperti naskhi, rik’i, kufi, tsulusi, diwani, dan lain sebagainya. Pesan-pesan dalam kaligrafi itu mengandung makna yang bervariatif sesuai visi, misi, dan tujuan UIN Sunan Kalijaga. Masih dalam hal Islamicity, arsitektural masjid UIN menampakkan keselarasan (tawazun), kesederhanaan (basatah), dan keteraturan (murattabah).

Sementara dari segi Locality ditunjukkan dengan bentuk bangunan masjid yang memperhatikan budaya lokal, Jawa. Desain masjid ini mencerminkan unsur-unsur budaya (Jawa) yakni kepribadian dan vitalitas. “Di belakang papan nama Laboratorim Agama/Masjid UIN Sunan Kalijaga tercantum salah satu pesan yang berbunyi: Hanglaras Ilining Banyu, Ngeli Hananging Ora Keli. Maksudnya adalah dalam mengarungi kehidupan, manusia sebaiknya menjalani hidup seperti air yang mengalir; manusia mengikuti air mengalir, tetapi manusia tidak boleh larut dan hanyut,” jelas Amin.

Ungkapan yang diambil dari pesan Sunan Kalijaga itu mengandung nilai-nilai religiusitas dan spiritualitas yang tinggi. Pesan itu mengandung sebuah kepasrahan spiritual yang sangat ditekankan dalam tasawuf Islam. Namun dalam kepasrahannya manusia tidak harus menentang sebuah perubahan selama itu positif.

Adapun dari sisi Modernity, arsitektur bangunan masjid sejalan dengan core dan model kajian keilmuan dan keislaman/keagamaan di UIN Sunan Kalijaga, yang bersifat integratif interkonektif. Hal itu tampak dari desain bangunan yang diselaraskan dengan lingkungan alam semesta (ekologis), kebersamaan sosial (inklusif), dan nilai-nilai ekonomi.

Kesadaran ekologis yang merupakan wujud kepedulian terhadap global warming tergambar dari adanya fasilitas Ground Reservoar. Yaitu, tempat penampungan sisa air wudu agar tidak terbuang sia-sia, sehingga dapat dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman yang terdapat di selurah area kampus. Selain itu, masjid UIN didesain tidak menggunakan air conditioning (AC), tetapi memanfaatkan lalu lintas angin yang secara alami akan mendinginkan ruangan.

Sementara kesadaran inklusivitas tergambar dalam tata bangunan masjid yang ramah difabel. Hal itu jelas terlihat dari akses masuk masjid khusus difabel serta ruang wudu bagi difabel. Di samping itu tersedia tempat salat khusus bagi jamaah yang memiliki obesitas, atau para orang tua yang tidak mampu berdiri maupun bersila. Adapun fungsi ekonomi tercermin dari pemanfaatan ruang bawah tanah bangunan masjid sebagai kantin.

Menurut Amin, dengan mempertimbangkan ketiga makna arsitektural dan fungsinya yang melekat pada bangunan masjid UIN, tak berlebihan kiranya jika masjid itu dilabeli sebagai “Laboratorium Agama.” Predikat baru itu diharapkan menjadi sumber inspirasi, motivasi, dan pedagogis kepada dosen, mahasiswa, dan masyarakat pada umumnya.

“Masjid baru ini tidak hanya berfungsi secara ritual-peribadatan, tetapi juga menyandang predikat sebagai “Laboratorium Agama”, sebagai tempat untuk mengasah olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah seni dalam memahami agama. Kehidupan agama yang tidak terpisah dari makna dan nilai-nilai kultural, ekologikal, dan inklusivitas sosial,” jelasnya.

Fungsi Edukatif

Mengomentari penjelasan Rektor, Staf Ahli Menteri Agama Bidang Pemikiran dan Paham Keagamaan, Ahmed Mahfudz, ditemui usai berkeliling meninjau lokasi bangunan Masjid, menyatakan kekagumannya. Menurut Mahfudz, Masjid UIN adalah masjid paling edukatif yang pernah dikunjunginya. “Inilah kelebihan dan keunikan Masjid UIN Sunan Kalijaga, sehingga patut menyandang sebutan Laboratorium Agama,” pujinya.

Mahfudz mengatakan, keunikan masjid UIN belum pernah dilihatnya di tempat lain. Konsep bangunan masjid UIN, menurutnya, betul-betul modern dan inklusif. “Setiap bangunan kampus di Amerika maupun Eropa hampir semuanya telah dirancang ramah difabel, meskipun belum ada mahasiswa difabelnya. Masjid UIN Sunan Kalijaga ini sangat responsif terhadap perkembangan zaman. Karena belum banyak kampus di Indonesia yang dilengkapi dengan fasilitas yang ramah difabel, termasuk bangunan masjid,” tuturnya.

“Saya berharap fungsi bangunan Masjid UIN Sunan Kalijaga ini menjadi contoh bagi bangunan masjid lainnya, baik yang ada di kompleks kampus maupun di kampung,” lanjutnya.

Ia juga berharap, Masjid UIN Sunan Kalijaga sebagai Laboratorium Agama tidak hanya berfungsi tempat ibadah (‘ubudiyah), melainkan juga berfungsi pendidikan (tarbiyyah), dan fungsi sosial. “Diharapkan dengan fungsi tersebut mampu menjadikan jamaah masjid meluaskan wawasan dan ilmu sehingga mampu membentuk karakter pribadi yang mulia seperti yang dicontohkan Rasulullah,” pesannya.

Acara peresmian Masjid UIN ini juga dihadiri sejumlah pejabat sipil dan militer, antara lain Asisten Gubernur III DIY Bidang Umum, Ihsan Nuri, Danrem 072 Pamungkas, perwakilan dari beberapa kampus di DIY, dan segenap sivitas akademik UIN Sunan Kalijaga. Usai acara peresmian, dilanjutkan dengan berkeliling bangunan masjid, dan diakhiri dengan Salat Zuhur berjamaah.

 

 Zamhari

 

 

 

 

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom