Idul Adha 1435 H: Islam Agama Perdamaian dan Kasih Sayang
Senin, 6 Oktober 2014 21:50:40 WIB
Dilihat : 1661 kali

Islam Agama

Perdamaian dan Kasih Sayang

Khotib Idul Adha: Prof. Dr. H. Muhammad Machasin, M.A

Penerjemah Khotib Bahasa Isyarat: Ustadz Mustarjudin

MC: Zamhari

Gema Takbir Idul Adha1435 H: UstadzAsrizal, Ustadz Suseto Yugo Utomo, Ustadz Anshori

Kaum Muslimin yang berbahagia dan diberkati Allah!

Pagi hari ini kita merayakan hari besar kita dalam suasana kehidupan bangsa yang tidak menyenangkan. Bangsa Indonesia yang terkenal sebagai bangsa yang sopan, ramah dan mengedepankan kerukunan ini kini sedang dilanda kambuhan suatu penyakit lama yang sangat memilukan dan memalukan, yakni egoisme, memperturutkan hawa nafsu dan kehilangan pertimbangan nurani. Memanglah aneh dan menimbulkan tanda tanya besar bahwa bangsa yang mayoritas warganya beragama Islam ini justru terjangkiti penyakit yang merupakan sebahagian dari sifat buruk yang terkandung dalam istilah “jahiliyyah,” padahal Islam datang untuk menghapusnya.

Mestilah kita sadari bahwa kata ini tidak berarti kebodohan sebagaimana sering dipahami orang. Analisis yang cermat atas pemakaian kata yang berasal dari akar J-H-L dalam Alquran menunjukkan bahwa yang dimaksudkan dengan kata-kata itu bukanlah lawan dari kata `ilm, melainkan 'ilm yang menunjukkan pengertian “the moral reasonableness of a civilized man,” yakni kewajaran moral dari seorang yang berbudaya. Termasuk di dalam pengertian kata hilm ini pengendalian diri, kesabaran, kemurahan hati dan kebebasan dari nafsu buta, selain kesadaran subyek atas kekuatan dan keunggulannya.

Memang dalam perkembangannya jahl diperlawankan dengan `ilm, namun ini hanya bersifat sekunder dan derivatif; fungsi semantiknya yang utama tetap menunjuk kepada pengertian sifat asli orang Arab badui, yakni tidak mau dikalahkan dan bertindak tanpa memikirkan akibat dari perbuatannya. Marilah kita lihat beberapa contoh.

Di jaman Nabi Muhammad saw., menurut riwayat Ibn Ishaq/Ibn Hisyam, terjadi peristiwa Syas bin Qais, seorang kafir tua yang cemburu dengan keakraban suku Aus dan Khazraj setelah kedatangan Islam, padahal sebelum itu mereka selalu berperang satu melawan yang lain dengan sebab-sebab yang remeh temeh. Ia lalu menyuruh seorang pemuda Yahudi untuk duduk dengan mereka dan membacakan puisi-puisi lama dari kedua suku itu yang mengingatkan mereka akan perang-perang yang terjadi di antara mereka sebelum kedatangan Islam. Mereka pun akhirnya termakan hasutan dan mulai bersiap untuk saling menyerang.

Ketika berita ini didengar Nabi Muhammad saw., beliau datang melerai seraya mengatakan, “Wahai orang-orang yang beriman, betapa beraninya kalian melupakan Allah. Apakah kalian tergoda lagi untuk mengikuti seruan jahiliyyah, pada saat aku masih bersama kalian di sini, ketika Allah telah membimbing kalian kepada Islam, memuliakan kalian dan dengan itu memotong ikatan jahiliyyah dari kalian, mengentaskan kalian dari kekufuran dan mempersaudarakan kalian satu sama lain?” Mereka pun lalu menyadari bahwa syetan telah menggoda mereka dan mereka termakan godaannya.

Jelas di sini bahwa kata jahiliyyah tidak berkaitan sama sekali dengan kebodohan, melainkan perasaan akan kehormatan suku, jiwa persaingan dan arogansi serta semua tindakan kasar yang berasal dari nafsu amarah.

Kisah lain menyebutkan bahwa Khalid bin al-Walid diutus Nabi ke daerah di sekitar Mekkah untuk mengajak orang-orang di sana ke dalam naungan Islam. Khalid lalu meminta orang-orang itu untuk meletakkan senjata dan kalau mereka mau melakukannya, mereka tidak akan diserang. Akan tetapi, ketika mereka sudah meletakkan senjata, Khalid mengikat tangan mereka dan memenggal kepala mereka. Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah, beliau sangat menyesali perbuatan Khalid itu dan mengutus `Aliseraya mengatakan, “Pergilah kepada kaum itu dan perik-salah dengan teliti perkara mereka serta pendamlah kebiasaan jahiliyyah.” `Ali pun lalu pergi dan membawa banyak tebusan atas darah dan harta yang telah terbuang percuma oleh kebrutalan Khalid. Kemudian ada orang yang menegur Kh?lid dengan mengatakan, “Anda telah melakukan suatu tindakan jahiliyyah.

Di dalam Alquran kata jahiliyyah muncul empat kali: (1) surat 3/?l `Imran:154, yang menyebutkan sangkaan tak berdasardari orang-orang Islam yang masih lemah keyakinan mereka bahwa kalau memang benar Rasul Allah, Muhammad saw. tidak akan dapat dikalahkan dalam peperangan, (2) surat 5/al-Ma'idah:50, yang menyebutkan hukum jahiliah yang dikehendaki orang-orang yang tidak suka kepada nabi Muhammad saw., (3) surat 33/al-Ahzab:33, yang melarang isteri-isteri Nabi untuk memamerkan perhiasan sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Jahiliyyah yang pertama, dan (4) surat 48/al-Fat?:26, yang menyebutkan arogansi jahiliyyah.

Dengan demikian jahl mengandung ide sentral sebagai berikut:

  1. Sifat kasar, liar, gampang digerakkan oleh rangsangan yang sangat kecil sekalipun dan membawa orang untuk melakukan tindakan-tindakan sembrono.
  2. Sifat ini cenderung untuk muncul dalam rasa harga diri yang tinggi yang lazim dimiliki orang-orang Arab, terutama yang tinggal di pedalaman.
  3. Sikap permusuhan dan agresif terhadap ajakan untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk.

Bukankah yang dipertunjukkan dalam panggung kehidupan bangsa kita saat ini adalah sifat-sifat seperti itu? Anehnya, tidak jarang orang melakukan tindakan-tindakan jahiliyyah itu atas nama agama Islam.

Apa yang diperoleh dengan sikap-sikap seperti itu? Tidak lain adalah permusuhan, kebencian, perpecahan dan sebagainya; padahal Islam merupakan agama perdamaian yang mengajak kepada kedewasaan bersikap umat manusia. Kejayaan Islam sangat mustahil untuk dapat diperoleh dengan itu semua. Oleh karena itu kepada kaum Muslimin, termasuk yang sekarang ada di sini, harus selalu diingatkan bahwa tidak jarang apa yang dimaksudkan untuk mengangkat derajat agama, kalau salah jalan, justru akan memerosokkannya dalam kehinaan.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.

Kaum Muslimin yang dipelihara Allah!

Kata islam secara etimologis memberikan pengertian penyerahan diri dan masuk ke dalam kedamaian. Pengertian pertama sangat banyak dipakai dalam Alquran, seperti pada ayat yang menyebutkan bahwa agama yang benar bagi Allah adalah islam. Di sini yang dimaksud adalah bahwa agama yang benar adalah agama yang prinsip utamanya adalah penyerahan diri kepada Tuhan. Kemudian, kata salm berarti damai sebagai lawan dari peperangan, dan dari itu islam berarti masuk ke dalam kedamaian. Dengan demikian, dalam hubungan antara manusia, perdamaian mesti diusahakan oleh kaum Muslimin.

Sementara itu, perdamaian tidak akan dapat dicapai dengan kekerasan. Kekerasan paling banter hanya akan menghasilkan kemenangan fisik, padahal orang yang secara fisik dikalahkan tidak akan pernah rela dengan kekalahan-nya. Dalam lubuk hatinya akan tersimpan dendam yang membuatnya selalu mengintai-intai kelengahan orang yang mengalahkannya dan ketika saat itu datang ia akan melampiaskan rasa jengkelnya yang telah berkembang bagai api dalam sekam. Karena itu, yang mesti diusahakan adalah memenangkan hati, memberikan pengertian akan makna kebenaran dengan memuaskan akal dan nurani. Untuk memenangkan hati diperlukan apresiasi, pengertian, kasih sayang, kesediaan memberikan maaf dan dukungan. Nabi Muhammad saw. pernah diingatkan oleh Allah mengenai hal ini:

Karena rahmat dari Allah-lah engkau telah bersikap lemah-lembut kepada mereka; dan kalaulah engkau bersikap kasar lagi keras hati, tentulah mereka lari dari kelilingmu. Oleh itu maafkanlah mereka dan pohonkanlah ampun bagi mereka, serta ajaklah mereka bermusyawarah dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah bertekad bulat, maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengasihi orang-orang yang bertawakal kepadaNya.

Menyantuni sebanyak-banyak orang, menghargai hatta yang paling hina sekali pun, memaafkan hatta yang paling jahat sekalipun dan perwujudan kebesaran jiwa lain-nya, adalah yang diperlukan untuk memenangkan hati. Kejujuran dan kewaspadaan juga merupakan keharusan, tetapi bukan apa yang dinyatakan dalam peribahasa “Sivis pacem para bellum,” jika kamu menghendaki perdamaian bersiaplah untuk perang. Peribahasa ini tidak cocok untuk metode perdamaian Islam, karena dengan itu akan timbul kecurigaan dan ketidakjujuran.

Yang diajarkan Nabi bukan itu, melainkan kewaspadaan yang disertai kebesaran jiwa. Dalam sebuah hadis disebutkan:

Allah berwasiat kepadaku mengenai sembilan perkara yang aku wasiatkan kepada kalian: (1) ikhlas dalam keadaan sepi atau ramai, (2) adil dalam keadaan suka atau marah, (3) mengambil jalan tengah dalam keadaan kaya atau fakir, (4) memaafkan orang yang menganiayaku, (5) memberi orang yang menghalangiku, (6) menyambung hubungan orang yang memutuskan hubungan denganku, (7) diamku berpikir, (8), bicaraku dengan kesadaran, dan (9) penglihatanku untuk mengambil pelajaran.

Jalan kekerasan hanya boleh ditempuh manakala sudah tidak ada lagi jalan lain, it is only the last resort. Itu pun harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan dengan pertimbangan yang sangat cermat. Mesti diingat bahwa dengan kekerasan akan banyak jiwa dan badan yang terluka. Badan yang terluka akan sangat mudah mengobatinya, namun jiwa yang terluka akan terus diwariskan dan membebani generasi yang akan datang, yang tidak ikut terlibat dalam keputusan penggunaan kekerasan sama sekali. Barang kali karena ini-lah Alquran mengingatkan,

Dan jika mereka (pihak musuh) cenderung kepada perdamaian, maka engkau juga hendaklah cenderung kepadanya serta bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Ia Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar,

Kaum Muslimin yang diberkati Allah!

Marilah kita perhatikan ajaran Islam yang penuh dengan kedewasaan bersikap dan bertindak. Tiga ayat dalam surat Fushilat menggambarkan dengan sangat baik citra ideal seorang Muslim.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada jalan Allah, mengerjakan amal yang saleh, sambil berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri kepada Allah”? Tidaklah sama perbuatan yang baik dan perbuatan yang jahat. Tolaklah perbuatan orang kepadamu dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang menaruh rasa permusuhan terhadapmu, dengan serta merta akan menjadi seolah-olah seorang sahabat karib. (Tapi ingatlah), sifat yang terpuji ini tidak dapat diterima dan diamalkan melainkan oleh orang-orang yang bersikap sabar, dan tidak juga dapat diterima dan diamalkan melainkan oleh orang yang mempunyai anugerah yang besar.

Nabi Muhammad saw. juga menganjurkan kasih sayang di antara warga bumi. Dalam sebuah hadis dinyatakan:

Orang-orang yang mengasihi akan dikasihi oleh Tuhan yang Maha Pengasih. Kasihilah orang-orang yang ada di bumi, niscaya Yang di Langit akan mengasihi kalian. Ra-him adalah berkas urat dari Allah yang Maha Pengasih; barang siapa menyambungnya, Allah akan menyambung orang itu dan barang siapa memutusnya Allah akan memutus pelakunya.

Alquran juga melarang kaum Muslimin dari menjelek-jelekkan orang lain, sebab tidak jarang terjadi bahwa orang yang dijelek-jelekkan itu justru lebih baik keadaannya. Dalam suatu ayat dinyatakan,

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah se-suatu kaum lelaki mencemooh kaum lelaki yang lain, karena bisa jadi yang dicemoohkan itu lebih baik daripada mereka; dan janganlah pula segolongan perempuan mencemooh segolongan perempuan yang lain, karena bisa jadi yang dicemoohkan itu lebih baik daripada mereka; dan janganlah setengah kamu menyatakan keaiban setengah yang lain; dan janganlah pula kamu panggil-memanggil antara satu dengan yang lain dengan gelaran yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk (kepada seseorang) sesudah ia beriman. Barang siapa tidak bertaubat (daripada perbuatan fasiknya) maka merekalah orang-orang yang zalim.

Ejekan atas orang lain tidak jarang berakibat negatif pada diri sendiri, seperti yang disebutkan dalam hadis berikut.

Rasulullah saw. bersabda, sesungguhnya di antara dosa yang paling besar adalah jika seseorang mengutuk kedua orang tuanya.” Para sahabat bertanya, “Bagai-mana mungkin seseorang mengutuk kedua orang tua-nya?” Beliau menjawab, “Ia mencaci ayah orang lain, lalu orang yang orang tuanya dicaci itu membalas mencaci ayahnya dan ia mencaci ibu orang lain, lalu orang lain itu membalas dengan mencaci ibunya.”

Islam menganjurkan kita untuk menghindari pertikaian/perang mulut dengan orang yang kehilangan kontrol diri. Disebutkan dalam Alquran:

Hamba-hamba Allah yang Maha Pengasih adalah mereka yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil mengajaknya bicara, mereka menjawab, “Selamat.”

Kata jahil di dalam ayat ini tidak berarti orang bodoh, melainkan orang yang sedang emosi dan kehilangan penguasaan diri. Kepada orang bodoh kita tidak dianjurkan untuk menghindar dan tidak menanggapi pembicaraannya. Hanya kepada orang-orang yang kalap dan emosionallah semestinya sikap itu diambil.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar,

Jama`ah kaum Muslimin yang berbahagia! Perdamaian juga hanya dapat tegak kalau ada sistem kontrol yang baik atas pihak-pihak yang terlibat. Kiranya dalam konteks inilah kita sebaiknya memahami perintah Allah kepada kita untuk menjadi penegak kebenaran di tengah-tengah masyarakat. Dinyatakan dalam salah satu ayat Alquran:

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu benar-benar penegak-penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap diri sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia [orang yang tergugat] kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Jika kamu memutar-balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

Ini berarti bahwa kaum Mukminin harus menjadi penegak keadilan yang sungguh-sungguh dan menjadi saksi atas manusia demi Allah semata. Tugas ini dibebankan kepada kita karena kita adalah umat pilihan atau orang yang ada di tengah-tengah sehingga mampu berkomunikasi dengan sebanyak-banyak orang. Dalam menegakkan keadilan dan menjadi saksi ini, kita tidak boleh pandang bulu, tidak peduli siapa pun yang akan terkena keadilan itu. Kita tidak boleh diseret oleh rasa kasihan karena orang yang kita saksikan itu adalah orang tua sendiri atau kerabat atau teman dekat. Bagaimanapun keadaan orang yang didakwa, Allah lebih tahu tentang orang itu dari pada kita. Jadi kita tidak perlu membelanya, kalau ia memang bersalah.

Selanjutnya, kita tidak boleh menurutkan hawa nafsu, sehingga menyimpang dari kebenaran. Allah maha tahu tentang apa pun yang kita lakukan. Di hari kiamat nanti Ia akan minta pertanggungjawaban dari kita mengenai per-buatan itu. Oleh karena itu, tidak layaklah kalau kita memutarbalikkan kata-kata dalam bertindak sebagai saksi atau tidak mau menjadi saksi.

Di dalam ayat lain disebutkan bahwa Nabi adalah saksi bagi kaum muslimin.

Demikianlah Kami jadikan kalian suatu umat yang dada di tengah (atau pilihan) agar kalian menjadi saksi-saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kalian.

Dengan demikian, kita dapat mengambil pengertian “menjadi saksi” itu dengan melihat bagaimana Rasulullah bertindak terhadap kaum muslimin. Beliau tidak menjadi saksi dalam pengadilan, melainkan menjaga tegaknya peraturan yang didasarkan pada wahyu yang diterima beliau dari Allah. Beliau juga mengajak dan membimbing orang ke jalan Allah, jalan hidup yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan jalan hawa nafsu yang akan membawa kepada kehancuran.

Apakah kita akan dapat menjadi saksi-saksi kebenaran untuk perdamaian umat manusia? Jawabnya ada dalam kesungguhan kita untuk melaksanakan perintah mulia ini. Akan tetapi, ini pun mesti dilakukan secara bersama-sama, agar yang lemah dapat terdukung dan yang lupa dapat diingatkan serta yang malas dapat dibangkitkan kesungguhannya. Bukankah dalam surat pendek yang sering kala dibaca di akhir sebuah upacara keagamaan, al-`Ashr, kita selalu diingatkan bahwa manusia akan merugi, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran. Manusia mempunyai sifat dasar lupa dan salah dan karenanya adalah sangat wajar kalau yang lupa diingatkan dan yang salah dibetulkan. Sudah barang tentu bahwa semua itu mesti dilakukan dengan cara-cara yang wajar d an tidak menyinggung perasaan orang yang diingatkan atau diluruskan.

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang selalu waspada dan berbuat kebaikan untuk sesama, sebagai wujud terima kasih kita kepada Tuhan yang telah mempercayakan kehidupan kepada kita. Amin.

Ed: Zamhari

=============


Kolom Terkait

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom