Mencetak Generasi Unggul Penuh Prestasi Melalui Pendidikan Islam
Kamis, 16 Oktober 2014 21:34:13 WIB
Dilihat : 4301 kali

MENCETAK GENERASI UNGGUL PENUH PRESTASI

MELALUI PENDIDIKAN ISLAM

Khatib 17 Oktober 2014 Dr. Imam Muhsin, M.Ag.

Penerjemah Bahasa Isyarat: Agung Trimo Sukron

Qori Mizan

Kaum muslimin rahimakumullah

Setiap muslim memiliki potensi besar untuk menjadi pribadi yang unggul dan berprestasi. Hanya saja potensi itu belum dikelola secara baik, sehingga bukan kesuksesan yang diraih tetapi justru keterbelakangan dan kurang percaya diri. Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam berupaya meraih kesuksesan tersebut dengan cara mengelola dan mengoptimalkan potensi besar yang dimiliki. Di sinilah pendidikan Islam dapat memainkan peran strategis, sekaligus dapat mengklarifikasi pertanyaan sinis bernada sumbang yang sering mengemuka terkait dengan kemerosotan moral dan lemahnya daya saing umat, yang sementara pandangan antara lain menyebut pendidikan Islam sebagai salah satu faktor penentunya. Apa yang telah dilakukan oleh pendidikan Islam selama ini?

Kaum muslimin rahimakumullah

Generasi muslim ideal yang dicita-citakan oleh pendidikan Islam adalah terwujudnya generasi yang sehat dan kuat jasmaniahnya serta berketrampilan, cerdas dan pandai akalnya, dan hatinya penuh iman kepada Allah. Kondisi ini menunjuk kualitas pribadi seorang muslim yang penuh keunggulan karena jati diri ke-muslim-annya, sehingga dapat disebut muslim prestatif. Sebutan itu didasarkan pada sebuah ungkapan yang berbunyi “dia berprestasi, karena dia seorang muslim”. Jadi, ajektiva (sifat) “prestatif” yang dilekatkan pada kata muslim itu tidak hanya bermakna keberhasilan sebagai kata sifat semata-mata, tetapi juga bermakna sebagai kata kerja. Dengan kata lain, tolok ukur keberhasilan itu tidak hanya dilihat pada hasil akhirnya, tetapi juga prosesnya. Dengan demikian, hubungan antara variabel keberhasilan dan ke-muslim-an tidak terpisah, tetapi justru variabel keberhasilan bertumpu pada variabel ke-muslim-an. Inilah nilai keunggulan seorang muslim yang dapat diteladani dari pribadi Nabi Saw.

Nabi Muhammad Saw adalah manusia pilihan yang banyak memiliki keunggulan. Dalam sebuah sya’ir disebutkan bahwa perbandingan Nabi Saw dengan manusia lainnya adalah seperti yakut (permata) yang berada diantara bebatuan. Meskipun bercampur dengan jenis batu yang lain, tetapi keunggulannya tetap memancar dan tidak akan hilang. Itulah sebabnya, Nabi Saw merupakan teladan terbaik sepanjang sejarah umat manusia. Al-Qur’an menyatakan: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah (Muhammad saw) itu suri teladan yang baik bagimu, …..”.

Keutamaan Nabi Saw bagaikan samudra tak bertepi. Para ulama telah mencurahkan segala upaya untuk menggali keutamaan segi-segi kemanusiaan yang ada padanya. Meskipun mereka mampu mencapai pengetahuan itu seperlunya, namun sampai kini pengetahuan yang sempurna belum juga mereka capai. Dan kalaupun pengetahuan itu telah dicapai, tetapi apa yang diketahui dari pribadi Nabi Saw tersebut tidak atau belum sepenuhnya diteladani.

Kaum muslimin rahimakumullah

Hal penting yang seringkali luput dari peneladanan umat Islam pada pribadi Nabi Saw adalah prestasi. Nabi Saw sangat memperhatikan masalah prestasi. Dalam ibadah shalat, misalnya, beliau selalu melaksanakannya yang terbaik. Sebuah riwayat menceritakan, bahwa kaki Nabi Saw sampai bengkak karena lamanya beliau melaksanakan shalat malam. Konsep ihsan yang dinyatakan Nabi Saw sebagai “engkau mengabdi kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat engkau”, mengisyaratkan bahwa umat Islam harus berbuat yang terbaik dalam pengabdiannya kepada Allah. Sebab ihsân, yang secara harfiah berarti “berbuat baik”, mengandung ajaran tentang penghayatan akan ke-Mahahadiran (Omni present) Allah dalam hidup, melalui penghayatan diri sebagai sedang menghadap dan berada di depan hadirat-Nya ketika beribadah. Pada saat demikian, maka ibadah (dalam arti sempit maupun dalam arti luas) akan diupayakan sebaik mungkin, bahkan bila perlu yang terbaik. Ini berarti, ihsân mengajarkan tentang hidup yang berkualitas dan memiliki nilai keunggulan (prestasi).

Demikian juga, sabda Nabi Saw yang menyatakan bahwa “sesungguhnya amal itu sah (sempurna) hanya dengan niat”, menunjukkan betapa kualitas dan nilai keunggulan menjadi hal terpenting dalam setiap aktifitas. Dalam ilmu psikologi, niat dapat dipahami sebagai motivasi. Salah satu aspek motivasi adalah dorongan berprestasi, yaitu dorongan untuk meningkatkan kualitas terbaik atau memenuhi standar keunggulan tertentu.

Kaum muslimin rahimakumullah

Pendidikan Islam antara lain didefinisikan sebagai “bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam”. Aspek bimbingan dan pembinaan dalam pendidikan Islam menyangkut tiga potensi dasar manusia, yaitu jasmani, pikiran/otak, dan hati. Potensi jasmani merupakan modal dasar untuk menghasilkan karya-karya besar. Potensi pikiran (otak) merupakan modal utama untuk mengatur strategi yang paling jitu nan mempesona. Sementara hati (kalbu) mempersembahkan sikap tawakal dan ikhlas sesuai dengan syariat agama yang dibawa oleh Nabi pamungkas. Aktualisasi ketiga potensi itu mewujud dalam bentuk ikhtiar, pikir dan dzikir. Sinergi dari ketiganya merupakan energi yang sangat besar yang dapat mendorong umat Islam mencapai keunggulan di puncak prestasi. Masing-masing dari ikhtiar, pikir, dan dzikir satu sama lain saling menopang. Ikhtiar tanpa pikir tidak akan mencapai hasil terbaik, karena pikir mampu memberikan strategi bagi keberhasilan ikhtiar. Begitu juga, ikhtiar tanpa dzikir tidak akan menghasilkan prestasi terbaik, karena dzikir merupakan bagian dari kesempurnaan ikhtiar.

Nilai keunggulan yang dihasilkan dengan mendayagunakan potensi jasmani dan otak/pikiran hanya bersifat duniawi, jika tidak dilakukan dengan benar. Hal terpenting yang dapat membuat seseorang menjadi unggul dunia maupun akhirat adalah kejernihan berpikir. Dengan berpikir jernih, seseorang memiliki kemampuan mengontrol emosi dan mengendalikan diri, sehingga dapat berbuat dengan tepat. Namun, untuk dapat menguasai diri, berpikir dan bertindak jernih, kunci utamanya adalah kemampuan berdzikir kepada Allah Swt dalam arti luas, yaitu segala aspek yang dapat menambah ketaatan kepada Allah. Dengan demikian, pangkal tolak keunggulan duniawi dan ukhrawi adalah dzikrullah.

Kaum muslimin rahimakumullah

Seorang muslim, di samping memiliki potensi jasmani untuk ikhtiar dan otak untuk berpikir, juga memiliki hati/kalbu untuk berdzikir. Dengan dzikrullah, seorang Muslim dapat meningkatkan kualitas pikir dan ikhtiar, sehingga menjadi lebih jernih (ikhlash = murni karena Allah Swt.). Kualitas pikir yang jernih memungkinkan seorang Muslim dapat berpikir dengan teliti, cermat, dan tepat, serta penuh percaya diri dan optimisme. Sedangkan ikhtiar yang jernih mengandung arti bahwa segala aktivitas yang dilakukannya didasarkan pada nilai keimanan, tanpa pamrih dan tedensi apapun kecuali ridho Allah Swt., serta pasrah dan tawakal kepada-Nya. Perpaduan antara dzikir dan kejernihan pikir serta ikhtiar tersebut menjadikan seorang Muslim mampu mengontrol emosi dan mengendalikan dirinya, sehingga dalam berpikir dan bertindak senantiasa dilaksanakan secara jitu dan terbaik. Inilah performa seorang Muslim Prestatif. Kondisi demikian bergerak naik-turun bergantung pada intensitas dzikir yang dilakukan.

Ketika kalbu melakukan aktifitas dzikir, maka pikir sebagai aktifitas otak mengalami penjernihan transendental. Sebab, dengan dzikir seseorang selalu berada dalam ketentraman, ketenangan, dan kenyamanan hidup. Dengan demikian, akan terbukalah tabir dan cakrawala berpikir yang lebih luas, sehingga memungkinkan bagi seorang muslim mampu melakukan ikhtiar (karya) sebaik dan seoptimal mungkin, baik urusan duniawi maupun ukhrawi. Sebaliknya, jika kalbu tidak melakukan aktifitas dzikir, maka pikir akan mengalami “kegelapan” dari nilai-nilai transendental. Akibatnya seseorang tidak mampu melakukan ikhtiar (karya) terbaiknya, khususnya dalam konteks akherat. Sebab dia dapat dikuasai hawa nafsunya, dan pikirannya bekerja hanya untuk kepentingan pemuasan hawa nafsu tersebut.

Hubungan antara dzikir dan pikir di atas selaras dengan pendapat Prof. Musa Asy’ari, bahwa pikiran dan kalbu berhubungan secara organis. Dikemukakan bahwa kesatuan aktifitas otak dalam bentuk pikiran dan aktivitas kalbu dalam bentuk dzikir, merupakan kesatuan aktivitas akal. Meminjam istilah Erich Fromm, “akal mengalir dari perpaduan antara pemikiran rasional dengan perasaan”. Pikiran sebagai kerja otak berfungsi untuk memahami hal-hal fisik; alam dan manusia. Sedangkan dzikir sebagai kerja kalbu berfungsi untuk memahami hal-hal metafisik. Menurut Fromm, jika dua fungsi ini dipisahkan, pemikiran memburuk menjadi aktifitas intelektual yang menderita schizoprenia, yaitu penyakit kejiwaan berupa suka mengasingkan diri, dan ketika melampaui batas-batas tertentu akan menyebabkan penyakit dalam masyarakat. Sedangkan perasaan memburuk menjadi dorongan-dorongan neurosis yang merusak hidup. Ikhtiar pada dasarnya merupakan aktualisasi dari aktifitas kalbu dan otak. Oleh karena itu, keberhasilan dan keunggulan ikhtiar sangat bergantung kepada aktifitas kedua potensi dasar tersebut.

Kaum muslimin rahimakumullah

Di dalam al-Qur’an, Allah Swt menegaskan bahwa “sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. Ayat ini dapat dipahami bahwa perubahan pada skala sosial hanya dapat terjadi jika setiap individu yang merupakan bagian dari anggota masyarakat mengubah apa yang ada dalam dirinya, yaitu potensi dasar yang dimiliki setiap manusia; jasmani, otak, dan kalbu. Ketiga potensi itu merupakan sumber munculnya nilai-nilai dasar yang menyebabkan seseorang menjadi besar dan unggul, yaitu 1) kemampuan berpikir yang luar biasa, 2) mentalitas yang baik, 3) karakter yang seimbang, dan 4) kondisi fisik yang mendukung. Tiga yang disebut pertama (berpikir, mentalitas, dan karakter) bersandar pada otak dan kalbu, yang dua diantaranya (mentalitas dan karakter) merupakan nilai spiritual yang khusus bersandar pada kalbu.

Kemampuan berpikir yang baik, akan menjadikan seseorang memiliki daya imajinasi dan analisa yang tajam. Sedangkan kondisi fisik yang mendukung memungkinkan seseorang untuk mengemban tugas-tugas besar dan berat. Namun kedua aspek ini tidak menjadi jaminan bagi keunggulan seorang muslim. Aspek yang sangat menentukan adalah mentalitas dan karakter. Mentalitas yang baik dapat menjadikan seorang muslim tidak mudah down, memiliki mekanisme pertahanan jiwa yang tinggi, sifat survive, serta kemampuan berkembang dan bersabar. Karakter yang seimbang akan melahirkan tindakan yang didasarkan pada kesadaran bahwa tindakan itu adalah pilihan yang benar. Menurut al-Ghazali, tindakan yang lahir dari karakter seseorang akan muncul dengan tidak didahului oleh proses berpikir.

Kaum muslimin rahimakumullah

Pendidikan Islam memiliki peran sangat strategis menyangkut optimalisasi tiga potensi dasar di atas. Hal ini dapat dilakukan dengan membekali peserta didik kemampuan intrapersonal dan interpersonal sebagai pra-syarat yang harus dimiliki untuk menjadi generasi unggul dan berprestasi. Pertama, membekali setiap pribadi kemampuan mengoreksi atau mengevaluasi diri dan sikap mentalnya. Kemampuan dan kesungguhan mengevaluasi diri juga menjadi salah satu cara untuk membangun kredibilitas; salah satu karakter pribadi unggul. Hal ini dapat dilakukan dengan cara terus-menerus melakukan perenungan diri dan kemudian berusaha sekuat tenaga memotivasi diri. Perenungan diri dimaksudkan untuk menemukan dan menyadari kekurangan-kekurangan diri. Sementara motivasi diri dimaksudkan untuk menumbuhkan semangat untuk memperbiki diri atau merubah kekurangan diri menjadi sesuatu yang bermakna dan bernilai.

Pendidikan Islam juga harus memberikan wawasan yang luas dan kemampuan berpikir jauh ke depan. Seseorang akan kesulitan mengevaluasi dan memotivasi diri, jika dia memiliki wawasan yang sempit dan berpikiran pendek. Kemampuan mengevaluasi diri tidak akan muncul tanpa ditopang oleh wawasan yang luas. Sedangkan motivasi diri akan lahir, jika seseorang memiliki tujuan dan visi yang jelas dalam hidupnya; dan ini dapat terjadi jika dia memiliki wawasan luas dan berpikir jauh ke depan. Dengan kata lain, wawasan yang luas dan berpikir jauh ke depan akan melahirkan sikap evaluatif terhadap diri sendiri, serta tujuan dan visi yang jelas dalam hidupnya. Sementara tujuan dan visi yang jelas dapat menumbuhkan motivasi diri yang kuat guna mewujudkannya, sehingga, pada gilirannya dapat melahirkan pikiran taktis dan strategis.

Kedua, membekali setiap pribadi kemampuan membangun komunikasi sosial yang baik, sehingga wilayah pergaulan semakin luas, baik secara horisontal maupun vertikal. Kondisi demikian memberikan kontribusi positif bagi pengembangan diri peserta didik untuk menjadi unggul.

Sistem sosial memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kemandirian dan aktifitas manusia. Sebagai ilustrasi, dapat dikemukakan kajian kritis yang dilakukan oleh Erich Fromm terhadap sistem masyarakat teknologis dewasa ini. Menurut Fromm, sistem seperti ini akan mereduksi manusia menjadi bagian dari mesin, yang diatur oleh irama dan perintah-perintahnya. Manusia akan diseret menjadi “homo konsumen”; orang yang mengkonsumsi penuh yang tujuannya hanyalah untuk memiliki sebanyak-banyaknya dan menggunakan lebih banyak. Salah satu karakteristik dan ciri patologis manusia yang menonjol dalam masyarakat yang demikian adalah kepasifan. Manusia tidak menghubungkan dirinya sendiri dengan dunia secara aktif. Oleh karena itu, untuk membentuk peserta didik yang unggul sangat dibutuhkan sistem sosial yang bisa merangsang kreatifitas dan aktifitas. Yaitu, sistem sosial yang dapat memompa semangat mereka untuk menjadi “produsen” dan pelopor kamajuan; bukan hanya sebagai “konsumen” dan penikmat saja. Dan juga, sistem sosial yang dapat semakin meningkatkan kemampuan maupun mutu kepribadian mereka. Tetapi tidak kalah penting dari itu adalah kesadaran bahwa sistem tersebut tidak akan muncul dengan sendirinya, melainkan harus diusahakan dan diciptakan.

Ketiga, membekali setiap pribadi kemampuan membangun jaringan dan kerjasama. Di dalam Islam, membangun jaringan dan kerjasama ini disebut dengan istilah silaturrahmi, yang memiliki manfaat sangat besar, antara lain dapat mempercepat datangnya kebaikan, memperpanjang umur, dan memperbanyak rezki. Pengertian memperbanyak rezki memiliki dimensi yang sangat luas. Salah satu dimensinya adalah ilmu. Sebab, hikmah dari setiap pertemuan akan membangkitkan inspirasi bagi langkah-langkah ke depan, atau setidaknya dapat memberikan apresiasi lebih jauh tentang sisi lain dari suatu kehidupan. Hal ini penting agar setiap peserta didik bisa menyelisik diri mengenai bakat apa yang ada pada dirinya, yang bisa segera diasah dan dikembangkan, serta peluang-peluang apa saja yang ada di depannya yang bisa segera diraih.

Wallâhu a’lam bi al-sawâb.

Edit Zamhari

Kolom Terkait

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom