Memaknai Etos Kerja dalam Islam
Kamis, 6 November 2014 20:26:01 WIB
Dilihat : 8002 kali

Khotib: Dr. H. Muhammad Taufik M, Ag

Penerjemah Khatib Bahasa Isyarat: Ustadz Galih AR

Qori Mizan

Mc: Khoirul Anshor

Permintaan Sholat Ghoib;

Bekerja adalah sebuah keharusan dan kebutuhan bagi manusia untuk mewujudkan impiannya, dengan bekerja orientasi kehidupan manusia akan mempunyai arah yang jelas, yaitu meraih hasil yang didapat dari bekerja tersebut. Dengan bekerja manusia juga bisa mewujudkan ambisi dan mimpi besarnya di masa depan. Cuma yang harus digarisbawahi adalah bekerja bukan hanya sekedar bekerja dan mengejar materi semata, tetapi bekerja yang mempunyai mempunyai nilai etika di dalamnya yang secara umum dikenal dengan etos kerja. Etos kerja dalam arti luas adalah menyangkut akhlak dalam pekerjaan. Untuk melihat akhlak dalam bekerja sangat tergantung dalam memahami arti kerja dalam kehidupan, cara bekerja,dan hakikat kerja. Lalu pertanyaannya adalah bagaimana memaknai etos kerja dalam Islam?

Hadirin jama’ah jum’at yang berbahagia.

Sudah sering kita mendengar dan membaca bahwa negara-negara yang mayoritas muslim dikenal rendah dalam etos kerja. Padahal secara realitas kita lihat sebagian besar negara yang berpenduduk muslim tersebut kaya akan sumber alam seperti hasil tambang berupa minyak bumi, gas, dan emas. Belum lagi hasil laut, hutan, dan cadangan air yang melimpah. Logikanya dengan hasil alam yang banyak tersebut dapat memakmurkan rakyatnya. Tapi faktanya tidak semua negara yang kaya sumber alam tersebut hidup dalam kesejahteraan, hanya sebagian kecil saja yang merasakan kesejahteraan tersebut untuk menyebut Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait. Kita juga digelitik, karena sumber daya alam atau hasil alam tersebut bukan diolah sendiri negara tersebut tetapi justru dikerjakan oleh bangsa lain yang mempunyai keahlian dan peralatan canggih. Artinya negara kaya hasil alam tersebut hanya sebagai berposisi konsumtif, sementara bangsa lain yang mengolah dan memproduksinya. Inilah satu kritik pemikir Arab asal Marokko, yaitu Mohammed Abed al-Jabiri dalam nalar politik Arab, dengan mengatakan umat Islam khususnya bangsa Arab adalah adalah bangsa yang konsumtif dari produk luar, karena tidak mau dan memproduksi sesuatu dari negaranya sendiri. Oleh karena itu menurutnya perlu mengubah ekonomial-ghanimahyang bersifat konsumerisme dengan sistem ekonomi produksi. Serta membangun kerjasama dengan ekonomi antar negara Arab untuk memperkuat independensi. Selama bangsa Arab hanya sebagai bangsa konsumerisme tanpa mau berjuang berupaya meningkatkan etos kerja untuk berkreasi dan berinovasi, untuk melakukan perubahan maka menurutnya akan begitulah keadaan seterusnya.

Bila kita melongok Barat yang dikenal sebagai bangsa pekerja keras dan inovatif, kita sebagai muslim mestinya iri. Teknologi canggih dan modern apa saja hampir semua produksi mereka. Rekayasa dan inovasi ilmu pengetahuan mereka yang tiada henti menjadikan mereka sebagai bangsa yang kretif dan hidup serba modern. Semangat Barat yang Kristen untuk maju tidak dapat terlepas dari pengaruh pemikiran seorang jenius yang menulis buku Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme(TheProtestant Ethicand the Spirit of Capitalism) adalah sebuahbukuyang ditulis olehMax Weber, seorangekonomdansosiologJermanpada1904dan1905.

  • bahwakapitalismeberevolusi ketikaetikaProtestan memengaruhi sejumlah orang untuk bekerja dalam dunia sekuler, mengembangkanperusahaanmereka sendiri dan turut beserta dalamperdagangandan pengumpulan kekayaan untuk investasi. Dalam kata lain,etikaProtestan adalah sebuah kekuatan belakang dalam sebuah aksi massaltak terencana dan tak terkoordinasi yang menuju ke pengembangankapitalisme. Menurut agama Protestan yang baru, seorang individu secara keagamaan didorong untuk mengikuti suatu panggilan sekular dengan semangat sebesar mungkin. Seseorang yang hidup menurut pandangan dunia ini lebih besar kemungkinannya untuk mengakumulasikan uang.

Sumbangan pemikiran Weber tersebut ternyata mampu mempengaruhi nalar dan etos kerja bangsa Eropa menjadi kekuatan ekonomi yang besar dan paling stabil di dunia dengan mamakai landasan agama sebagai spirit, yang dalam hal ini adalah etika Protestan, yang ternyata semangat agama mampu menjadi motivasi kuat untuk melakukan perubahan dengan etos kerja tinggi yang dimilikinya.

Di belahan Timur ada sebuah bangsa yang dikenal mempunyai etos kerja tinggi yaitu Jepang. Negaranya yang terdiri dari kepulauan dan pegunungan dikenal sebagai negara yang paling sering dilanda bencana gempa dan sunami dan minim hasil alam dan sumber alam. Tapi berkat etos kerja masyarakatnya yang tinggi, Jepang bisa menjelma menjadi negara yang mempunyai kekuatan besar dalam bidang ekonomi di dunia. Jepang yang sering dilanda bencana alam dan minim hasil alam memacu mereka untuk kreatif dan bekerja keras menjadi Negara yang maju. Bukan rahasia lagi bahwa semangat perubahan yang menjadi obsesi mereka dilatarbelakangi oleh spirit samurai, yaitu berani, bekerja keras, dan pantang menyerah.

Hadirin jama’ah jum’at yang berbahagia.

Lalu bagaimana sebaiknya memaknai etos kerja dalam Islam agar bisa menjadi kekuatan yang diperhitungkan secara ekonomi, sosial, dan budaya di antara negara yang sudah maju? Menurut pemikiran khatib kita sebagai muslim harus mencamkan beberapa hal berikut ini:

1. Seseorang akan dikenal dan dihargai karena kerja yang dilakukannya, bila sebuah karya tercipta, orang yang melihat dan mendengar ingin tahu siapa yang melakukannya, hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. at-Taubah: 105

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan.

2. Etos kerja sebagai muslim mestinya melahirkan sikap fighting spirit (semangat bersaing) untuk menjadi yang terbaik dalam kehidupannya, hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. al-Baqarah: 148

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

3. Tujuan bekerja dalam Islam bukan hanya berdimensi dunia semata, tapi juga akhirat, di antara keduanya harus ada keseimbangan dalam skala priritas, Nabi bersabda dalam hadisnya:

Bekerjalah kamu untuk urusan dunia seakan kamu hidup selama-lamanya, dan bekerjalah kamu untuk urusan akhirat seakan-akan kamu mati besok pagi.

4. Memotivasi diri untuk kerja keras, setelah ibadah dengan ikhlas, dalam Q.S. al-Jumu’ah ayat 10 Allah SWT menyatakan :

Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

5. Bekerja untuk melakukan perubahan, dengan berbekal etos kerja yang tinggi mestinya setiap seorang muslim harus mampu melakukan perubahan dalam hidupnya untuk menjadi lebih baik. Karena yang merubah diri sendiri tentu yang bersangkutan bukan orang lain, sehingga setiap waktu selalu mengalami peningkatan untuk menjadi yang terbaik, dalam hal ini Allah menegaskan pada Q.S. ar-Ra’d: 11

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Sehingga yang perlu kita pahami adalah bahwa konsepsi etos kerja Islam tentu berbeda dengan lainya. Jika etos kerja masyarakat di luar Islam hanyalah mengejar materi semata, namun etos kerja dalam Islam merupakan sebuah produktivitas yang berbasis ibadah. Dengan demikian etos kerja Islam jika diterapkan diharapkan akan mampu merubah dunia Islam dalam arti yang lebih luas.

Ed; Zamhari

Kolom Terkait

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom