Adil
Jumat, 14 November 2014 09:28:54 WIB
Dilihat : 1426 kali

Khotib: KH Abdul Muhaimin

Penerjemah Khatib Bahasa Isyarat: Trimo Agung Sukron

Qori Mizan

Mc: Khoirul Anshor

Permintaan Sholat Ghoib; Achmad Fauzi (Mahasiswa Pascasarjana UGM)

Assalamu’alaikum war wab.

Para hadirin jamaah Jumah yang berbahagia!

Marilah kita syukuri nikmat Alloh hari ini, karena kita kita dapat menjalankan kewajiban kita sebagai muslim pria, untuk berhimpun bersama , melakukan ibadah Jum’ah ditengah-tengah kesibukan kita menyelesaikan tugas dan kuwajiban yang harus kita selesaikan. Kesempatan ibadah Jum’ah tentunya bukan sekedar ritus bersama tetapi merupakan momentum penting utk ber refleksi serta mengukur diri sudah layakkah kita disebut sebagai Muttaqien yaitu orang yang senantiasa mngdpankan keadilan dalam dalam segala kepentingan hidupnya agar betul-betul menjadi penegak keadilan dimuka bumi.

Kata adil (al-'adl) dijumpai dalam al-Qur'an, sebanyak 28 ayat. Secara etimologi lafadz adil bermakna pertengahan dalam makna lain al-Quran menggunakan kata ‘Adala verb dalam bentuk pastent dari kata ‘adil dalam arti sempurna Dalam Kamus Al-Munawwir Adil berarti perkara yang tengah-tengah. Dengan demikian, adil berarti tidak berat sebelah, tidak memihak, atau menyamakan yang satu dengan yang lain (al-musâwah). Istilah lain dari al-‘adl adalah al-qist,al-misl (sama bagian atau semisal). Menurut Ahmad Azhar Basyir, keadilan adalah meletakkan sesuatu pada tempat yang sebenarnya atau menempatkan sesuatu pada proporsinya yang tepat dan memberikan kepada seseorang sesuatu yang menjadi haknya.

Adil adalah salah satu nama dari 99 asmaul husna sedangkan Al-Qur’an menegaskan bahwa, keadilan merupakan parameter paling fundamental dalam mengukur ketaqwaan seorang muslim, karena sifat adil adalah sifat yang paling mendekati ukuran ketaqwaan seseorang. Keadilan juga menjadi ajaran seluruh agama di dunia maupun kepercayaan lokan (indogenes beleif)

Musyawarah‘Alim Ulama se Indonesia Th 1982 di pesantren al-Ibrohimiyyah Asembagus Situbondo, Jawa timur menjadikan prinsip al-‘adalah sebagai salah satu elemen penting visi kebangsaannya yakni : Tawasuth (moderat) , Tawazun (imbang) dan al-adalah (persamaan/egaliter).

Para founding fathers bangsa Indonesia, meletakkan keadilan sebagai tujuan final berbangsa bernegara bagi segenap warga bangsa Indonesia yang memiliki kekayaan alam baik flora, fauna, tambang ,mineral dan kekayan budaya yang harus terdistribusikan secara adil dan merata (keadilan distributif) .

jika kita menelaah kembali pesan Islam tentang keadilan, maka Keadilan merupakan perintah Allah kepada para nabi dan menjadi kewajiban bagi kaum muslim baik secara personal maupun komunal sebagaimana termaktub dalam firman Alloh

: “Dan telah Aku perintahkan agar berbuat adil di antara kalian”. (al-Syura, 15); “Wahai orang-orang beriman jadilah kalian para penegak keadilan”

Berbuat adil merupakan nilai absolut yang harus ditegakkan dalam segala situasi dan tidak boleh dipengaruhi oleh subyektifitas atau kepentingan apapun, bahkan dalam maeghadapi musuh sekalipun:

“dan janganlah kebencian kalian atas suatu kaum membuat kalian tidak berlaku adil, adillah, ia lebih dekat kepada taqwa” (al-maidah, 8); “maka jangan kalian memperturutkan hawa nafsu agar kalian berbuat adil” (al-nisa’ 135).

Rasulullah juga menegaskan: sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah serta duduknya paling dekat dengan Allah pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil. Sesungguhnya orang yang paling dibenci Allah dan paling keras siksanya di hari kiamat adalah penguasa yang tiran”. “Sesungguhnya orang yang paling mulia dan terhormat bagi Allah adalah raja yang adil”.

Selain Qur’an, para ulama juga menegaskan pentingnya keadilan sebagai elemen dasar Islam. Imam Syatibi mengatakan dalam “al-muwafaqat”: keadilan di antara manusia adalah tujuan yang dicita-citakan oleh syariat Islam. Dalam bab lain ia mengatakan bahwa tujuan syariat adalah memelihara lima kemashlahatan asasi: agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Ini juga ditegaskan oleh Imam al-Ghazali dan para ulama ushul yang lain. Lima kemashlahatan ini jika terwujud akan melahirkan keseimbangan sosial dan ini merupakan inti keadilan.

Imam Ibnu Qayyim dalam “I’lam al-muwaqqiin” lebih jauh menegaskan bahwa Allah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab suci dengan tujuan agar manusia bisa berlaku adil. Keadilan merupakan landasan tegaknya langit dan bumi. Menurut Ibn Al-Qayyim, jalan apapun yang mengarah kepada pencapaian keadilan sama maknanya dengan jalan yang mengarah kepada Allah.

Ibnu Taymiyyah dalam buku “al-Khisbah” mengatakan: berbagai urusan manusia di dunia akan lebih sering ditegakkan dengan keadilan meski di dalamnya terkontaminasi dengan berbagai dosa, daripada ditegakkan dengan kedlaliman terhadap hak-hak meskipun tidak terkontaminasi dosa. Selain itu, Ibnu Taymiyyah mengatakan: “Allah menegakkan sebuah negara yang adil meskipun kafir dan tidak akan menegakkan negara dlalim meskipun muslim.” Ia juga mengatakan: Dunia akan bertahan dengan keadilan dan kekafiran dan tidak akan survive dengan kedlaliman dan Islam.

Ketika Abu Bakar naik tahta kehalifahan ia menyatakan untuk memenuhi tuntutan keadilan dengan mengatakan: “Orang yang lemah menurut kalian adalah kuat menurutkyu, sehingga ia harus dipenuhi haknya. Dan orang yang kuat menurut kalian adalah orang lemah menurutku hingga ia dipenuhi haknya. Insya Allah”.

Umar mengingatkan bahwa ia ditugaskan bukan untuk tujuan agar manusia memperoleh kabar gembira dan harta benda, melainkan agar mereka saling belajar tebntang Kitab Allah dan Sunnah Rasul, dan agar mereka mengambil keputusan antar mereka dengan benar, dan agar mereka membagi di antara mereka dengan adil”. Tindakan tegas itulah yang dilakukan Sayyidina Umar Ra ketika ia menegur gubernur Mesir Zaid saat memperlakukan seorang Yahudi dengan perlakuan yg tidak adil.

Imam al-Turthusi dalam Siraj al-Muluk mengatakan: tidak ada derajad di atas penguasa yang adil selain para Rasul. Bagi Allah tidak ada penguasa selain yang memiliki syarat-syarat keadilan, keinsyafan yang kuat, dan syraitat yang ikhsan”.

Sebagai inti ajaran Islam yang tertulis dalam kitab, pesan keadilan begitu kuat dalam hazanah Islam. Tetapi, dalam pemahaman, penghayatan dan pengamalan Islam saat ini, pesan keadilan terasa hambar-hambar saja. Jika kita melihat fenomena keberagamaan kita, akan terasa adanya ketimpangan antara orientasi tauhid dan keadilan. Rasa keagamaan kita sebagian besar berisi kesadaran keimanan yang berpusat pada tauhid tetapi kosong dari kesadaran keadilan. Bahkan rasa keagamaan Islam saat ini lebih kental warna formalisme fiqhiyahnya sehingga keadilan sebagai inti syariat luput dari penghayatan kita. Akibatnya, ketaatan kita beragama tidak mendorong munculnya spirit untuk mendorong transformasi masyarakat ke arah yang lebih adil.

Itulah sebabnya, ummat Islam diberbagai belahan dunia saat ini hidup dalam gelimang ketidakberdayaan akibat struktur penindasan yang membelit kehidupan mereka. Tidak berdaya oleh struktur yang tidak adil di negeri mereka sendiri maupun akibat struktur global yang menghisap dan melemahkan. Ketidakadilan ini terus hidup dan berkembang karena tak ada kekuatan yang menghambat lajunya. Islam sebagai agama keadilan telah kehilangan taring transformasinya. Islam cenderung ”membiarkan” ketidakadilan dan terperangkap kedalam formalisme agama.

Maka saat ini perlu membangkitkan kembali orientasi pada revitalisasi Islam sebagai kekuatan untuk mendorong gerakan Islam mewujudkan keadilan sejalan dengan dakwah mengembangkan tauhid. Sebab, keadilan tidak saja tujuan akhir syariat Islam tetapi juga tujuan akhir seluruh agama samawi: “Telah Kami utus Rasul-rasul Kami dengan penjelasan (al-bayyinat) , dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan al-Mizan agar manusia menegakkan keadilan”.

Oleh karena itu, diperlukan revitalisasi semangat memperjuangkan keadilan dalam penghayatan keagamaan. Memberdayakan kembali ajaran Islam sebagai ”teologi transformasi” merupakan keharusan. Dari sini, tersedia generator gerakan Islam untuk transformasi masyarakat dari sistem dan struktur yang menindas ke arah yang menguatkan, dari yang dzalim menuju yang adil. Sehingga antara pembebasan manusia dari aqidah yang sesat dengan pembebasan dari ketidakadilan berjalan seimbang.

Akhirnya , sebagai penutup kami sampaikan ayat al-Qur’an yang kami kutip dari surat an-Nahl ayat 90


Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji dan kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

Mengomentari ayat diatas, Ibnu Mas’ud mengatakan : inilah ayat yang paling sempurna dalam Al-Qur’an untuk mengukur ketaatan manusia kepada Alloh.

Ed: Zamhari

Kolom Terkait

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom