MUHASABAH DAN OTOKRITIK DALAM MENGHADAPI ARUS BUDAYA GLOBAL TAHUN BARU 2015 M
Kamis, 16 April 2015 19:44:27 WIB
Dilihat : 1359 kali

Oleh: Prof. Dr. H. Maragustam Siregar, M.A.

Hadirin jama’ah jum’at yang dimuliakan Allah SWT.

Hari ini sampai kita kepada hari yang dimuliakan oleh Allah SWT yang disebut sebagai Sayyidul Ayyam (induk dari segala hari)”, Allah SWT masih memberikan kita umur panjang sampai saat ini. Bukan hanya umur panjang, Allah juga telah memberikan nikmat sehat serta nikmat istiqamah di dalam hati kita. Sehingga dengan nikmat-nikmat tersebut, kita ringan melangkahkan kaki memenuhi panggilan Allah, menunaikan shalat fardhu jum’at pada hari yang mulia ini.

Selanjutnya, shalawat dan salam mari kita bacakan untuk nabi Muhammad SAW. Mudah-mudahan dengan memperbanyak shalawat, dalam kehidupan kita diberikan istiqamah, dan di akhir hayat kita ditutup dengan husnul khatimah, dan ketika menghadap Allah SWT kita mendapatkan syafaatnya, Insya Allah, Amin-Amin ya Rabbal Alamin.

Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah kapan, dimanapun kita berada, baik dalam keadaan kita senang maupun dalam keadaan kita susuh karena kita tidak tahu kapan kita dapat beramal dengan baik dan kapan pula kita meninggalkan dunia ini. Ketika ajal menjelang, ketika nafas sudah di tenggorokan, maka tidak akan berguna lagi harta, kekuatan, pangkat, kesenangan dan kedudukan, tidak berguna lagi taubat dan muhasabah. Yang berguna hanyalah amal shaleh yang kita tanam semenjak kita dewasa. Alhamdulillah, beberapa hari yang lalu kita telah melewati hari terakhir bulan Desember 2014. Sekarang kita diberikan Allah SWT kesempatan memasuki hari-hari awal di bulan Januari 2015 M. Tentu pada tahun ini juga hidup kita akan diuji apakah bersyukur ataukah kufur terhadap nikmat-nikmat Allah yang kita terima. Mari kita renungkan, apa arti, apa pelajaran yang dapat kita ambil dari kesempatan hidup ini, sehingga kita dapat menghirup udara segar awal Januari 2015 ini?

Hadirin jama’ah jum’at yang dimuliakan Allah SWT.

Pelajaran terbesar yang kita dapatkan ialah, bahwa Allah masih memberikan kesempatan kepada kita melakukan muhasabatun nafsi (introspeksi dan otokiritk terhadap diri sendiri) secara total. Yakni mengkritisi kualitas iman, ilmu dan karakter kita (akhlak kita) dan semua hal yang terkait dengan kehidupan kita selama setahun sebelumnya, yakni tahun 2014 M. Diantara orang baik ialah orang yang selalu memahami kelemahan dirinya untuk maju lebih baik ke masa yang akan datang.

  1. TUJUAN MUHASABAH DIRI

Pada intinya ialah agar seseorang bertambah kualitas hidupnya dan karakter spiritualitas keagamaannya. Tuhan dan kita sendiri menimpakan semua kesenangan dan kesusahan dalam hidup ini pada hakikatnya, karena Tuhan ingin meningkatkan kualitas hidup (berupa iman, ilmu, amal shaleh) dan karakter (akhlakul karimah) kita lebih baik dan kuat-tahan uji. Banyak diantara kita berkarakter baik dan kuat adalah kesementaraan yakni selagi belum ada peluang atau ujian hidup untuk menjadi orang tidak baik (tuna karakter). Sekiranya ujian itu (kenikmatan dan kesusahan itu) menimpanya, pada saat itu juga mengurangi dan atau meninggalkan iman, ilmu keislamannya dan amal shalehnya. Itulah manusia bunglon, yang tidak punya karakter baik-kuat.

Allah berfirman sebagai dasar muhasabatun nafs. Dalam QS. Al-Hasyar: 18 disebutkan:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dalam ayat ini member isyarat bahwa muhasabah diri berbasis ketakwaan kepada Allah dan perencanaan hidup pun dimulai dengan nilai-nilai spiritual Islam.

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah s.a.w., telah bersabda: ''Khairunnaasi man thala umruhu wahasunu 'amaluhu''

''Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan bagus amalnya'' Dan sebaliknya sejelek-jelek manusia ialah yang panjang umurnya dan jelek amalnya. Semakin tua bukan semakin mendekat kepada Sang Pencipta, tapi justru semakin dekat ke dalam api neraka. Na’udzu billah min dzalika.

Karena itulah, Khalifah Umar ra. Berkata:

Hisablah, hitung-hitung diri kamu sebelum kamu dihisab oleh Allah

B. HAL-HAL YANG PERLU DI MUHASABAHKAN DALAM HIDUP KITA ANTARA LAIN:

Muhasabah pada hakikatnya bermanfaat (1) untuk dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan kita pada waktu yang lalu, sebagai bahan perbaikan hari ini dan persiapan serta perencanaan kehidupan waktu yang akan datang, (2) agar memampukan kita menutupi kelemahan masa lalu dan meningkatkan kualitas diri pada hari ini dan masa yang akan datang, dan (3) agar kualitas hidup kita berkembang terus menuju ke arah yang benar dan lurus sesuai dengan nilai-nilai spiritual keagamaan. Apa yang harus kita otokritik atau muhasabah ?

  1. Kualitas spiritualitas keagamaan kita (Islam). Pertanyaan yang muncul (1) sudah sejauh mana kita memahami dan mengamalkan ajaran agama (Al-Quran dan sunnah) sebagai sumber utama ajaran agama Islam? (2) Jika ternyata pada tahun sebelumnya kita banyak berbuat kesalahan maka pada tahun mendatang ini kita harus mengubah mental (revolusi mental) untuk berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya. Hal tersebut ditekankan dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullah s.a.w., telah bersabda :

''Ittaqillaha haitsumaa kunta wa atba'issayyaatal hasanaata tamhuhaa wa khaaliqinnaasa bikhuluqin hasanin.''

(''Bertaqwalah kamu kepada Allah di mana kamu berada, ikutilah perbuatan jahat dengan kebaikan, maka kebaikan itu akan menghapusnya, dan pergauli manusia dengan budi pekerti yang baik).''

Hadis ini member isyarat bahwa orang muhasabah dalam dirinya harus menjunjung tinggi bahwa setiap orang harus memperbaiki hubungan vertikalnya kepada Allah dan juga memperbaiki hubungan horizontal sesama manusia terus menerus. Artinya seseorang yang beragama tidak cukup hubungan baik kepada Allah, sementara hubungannya dengan sesama diwarnai dengan kedengkian, kesombongan, menyakitkan, bakhil (kikir), dan sifat-sifat negative lainnya. Ada tiga kelompok manusia menurut Nabi SAW yang binasa dunia akhirat yakni Syuhhun syadidun (orang yang sangat bakhil), wahawan muttaba’un (hawa nafsu yang diperturutkan/ hawa nafsu menjadi kemudi dalam hidupnya) dan I’jabul Mari binafsihi (orang yang ujub terhadap dirinya sendiri).

  1. Paradigma kita terhadap kehidupan dunia. Dunia bukan tujuan, tetapi sebagai terminal menuju akhirat. Jika dunia sebagai tujuan, maka segala cara akan dilakukan demi mencapai kebahagiaan sementara di dunia. Bilamana dalam masalah keduniaan sebelumnya kita mengalami kemunduran, maka carilah sebab kemunduran itu. Lalu cari cara baru yang sekiranya dapat mendatangkan kemajuan. Janganlah kemunduran pada tahun sebelumnya membuat putus asa atau melakukan konvensasi yang negatif. Sebab putus asa di dalam mengharap rahmat ALLAH dan pertolongan ALLAH dilarang dalam ajaran Islam. ALLAH berfirman dalam Al Qur'an surat Yusuf ayat 87:

''Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".

Kehidupan dunia sekarang ini dilanda oleh berpusat pada pemuasan syahwat kepada perempuan, mencintakan segala-galanya untuk anak turunan, dan membanggakan harta benda dan kedudukan. Pertanyaan yang muncul. Aapakah libido seksual kita telah disalurkan ke jalan yang benar/istri atau justru pergaulan bebas yang dilarang oleh agama? Apakah cinta kita kepada anak cucu dan keluarga masih tetap dalam standar nilai-nilai agama atau menjadikan kita merampas hak-hak orang lain, menipu orang lain, atau membiarkan keluarga kita dalam kegelapan spiritual? Apakah harta dan kedudukan yang kita miliki benar-benar berasal dari sumber yang halal dan tidak sedikitpun tercampur dengan yang haram seperti riba, menipu, korupsi dan sebagainya, atau syubhat (belum jelas halal atau haram). Harta yang haram dan syubhat menyebabkan hati kita sakit dan bahkan bisa mati serta do’a kita tidak dikabulkan Allah. Pada akhirnya, di dunia kita kehilangan barokah hidup dan di akhirat kita akan dilemparkan Allah ke dalam neraka. Sebab itu, Allah memotivasi kita agar harta yang Allah anugerahkan itu kita infakkan/belanjakan di jalan-Nya setelah kita keluarkan kewajiban yang ada di dalamnya seperti zakat, nafkah, infaq, dan shadaqah.

  1. Memperbanyak rasa syukur kepada Allah bilamana di dalam tahun yang baru dilalui itu memperoleh banyak kemajuan, baik dalam masalah duniawi maupun ukhrawi. Janganlah apa yang di capainya selama ini lalu membuat lupa daratan, sehingga dalam tahun berikutnya lalu berlaku sombong, atau membangga-banggakan apa yang telah di capainya selama ini. Ingat Qarun yang telah di laknat Allah karena berlaku sombong berkat keberhasilannya di dalam perniagaannya yang membawa dirinya semakin kaya dan merasa bahwa harta yang di dapat karena kehebatan ilmunya. Padahal sebenarnya apa yang telah di capainya itu semata adalah anugerah ALLAH. Iblis dilaknat oleh Allah karena sombong dan membanggakan asal kejadiannya dari api sementara Adam dari tanah.Karenanya dia tidak mau bersujud kepada Adam sebagai sujud penghormatan.
  2. Taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat. Taubat marupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya agar mereka dapat kembali kepada-Nya (QS. Al-Baqrah: 160). …kecuali mereka yang telah tobat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang (QS. Al-Baqarah, 160). Agama Islam tidak memandang manusia bagaikan malaikat tanpa kesalahan dan dosa sebagaimana Islam tidak membiarkan manusia berputus asa dari ampunan Allah, betapa pun dosa yang telah diperbuat manusia. Bahkan Nabi Muhammad telah membenarkan hal ini dalam sebuah sabdanya yang berbunyi: "Setiap anak Adam pernah berbuat kesalahan/dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang bertaubat (dari kesalahan tersebut)." Taubat dari segala kesalahan tidaklah membuat seorang terhina di hadapan Tuhannya. Hal itu justru akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya karena sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri.

Taubat yang tingkatannya paling tinggi di hadapan Allah adalah "Taubat Nasuha", yaitu taubat yang murni. Sebagaimana dijelaskan dalam surat At-Tahrim: 66, "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bresamanya, sedang cahaya mereka memancar di depan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan 'Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kamidan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu'".

  1. Merubah mental kita dengan karakter baru yaitu karakter sunan kalijaga yang dikenal dengan Nawabrata yaitu 9 nilai utama agar seseorang sukses hidupnya dunia akhirat yakni spiritual keagamaan, (2) bijaksana dalam hidup yang ditopang dengan ilmu dan pengalaman. Orang bijaksana ialah kemampuan dan kepandaian menggunakan akal budinya/pertimbangan yang baik dan kecakapan bertindak (pengalaman dan pengetahuannya) dalam menghadapi sesuatu; (3) rasa hormat kepada siapa saja; (4) tanggungjawab setiap apa yang kita lakukan; (5) tabah yakni sikap batin yang memampukan kita mengatasi atau menahan kesukaran, kekalahan, kesusahan, dan derita hidup; (6) kasih sayang yakni empati, kebaikan, kemurahan hati, pengabdian, kesetiaan, patriotisme, dan kesediaan memaafkan merupakan perwujudan dari “Karakter Kasih Sayang”. (7) kerja keras termasuk di dalamnya ulet, disiplin, teliti, kreatif, tekun, dan komitmen kepada tujuan; (8) Ikhlas ialah tindakan yang sungguh-sungguh dan bersih hati, benar-benar keluar dari hati yg suci untuk memperoleh ridha Allah; dan (9) Rendah hati ialah sikap mental ini membuat diri kita sadar akan kekurangan dan membuat kita berusaha menjadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain. Kata Nabi SAW: Sebaik-baik manusia ialah yang baik dan manfaat bagi orang lain.

Untuk merubah mental kita dengan 9 karakter utama dengan cara (1) membiasakannya terus menerus, (2) membelajarkan/mengetahui hal-hal yang baik tadi dengan logis, (3) mencintai dan rasakan yang baik itu. Kebaikan itu yang paling penting ialah rasakan dan cintai; (4) jadikan dirimu sebagai teladan disekitarmu dan contohlah orang-orang baik; dan (5) bertobatlah untuk kembali kepada jalan yang benar. Tobat bukan hanya dari dosa yang dilakukan tetapi juga tobat prilaku yang membawa kita gagal mencapai kesuksesan.

Ed: Diki Ahmad

Kolom Terkait

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom