Kepemimpinan dalam Islam
Kamis, 21 Mei 2015 22:39:07 WIB
Dilihat : 4331 kali

KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM[1]

Oleh : Prof. Dr. Abd. Rachman Assegaf[2]

Ma’asyiral Muslimin rahimakum Allah, sidang Jumat yang dimuliakan Allah,

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah s.w.t. karena pada hari ini kita masih diberikan karunia kesehatan, keIslaman dan keimanan untuk melakukan shalat Jumat berjamaah di Masjid UIN ini. Selanjutnya, marilah kita memperbaharui semangat taqwa kita kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh perintahNya dan menjauhi seluruh laranganNya. Shalawat dan salam tak lupa kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Semoga amal ibadah, amal shaleh, amal jariyah serta ketaqwaan yang kita laksanakan selama ini senantiasa mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amin, amin, ya rabbal alamin.

Selanjutnya, dalam kesempatan khotbah Jumat kali ini hendak disampaikan tema tentang kepemimpinan (leadership) dalam Islam. Tema kepemimpinan ini tentulah amat penting karena ada dalam semua tingkatan, mulai dari tingkat negara dengan pimpinan seorang Presiden, Raja/Ratu, Emir, Yang Dipertuan Agung, Sultan, Perdana Menteri beserta seluruh jajarannya, sampai pada kepemimpinan tingkat unit terkecil dalam sebuah keluarga dengan pimpinan orang tua atau bapak dan ibu. Begitu pula halnya dengan keberadaan kepemimpinan dalam perusahaan, organisasi, lembaga/instansi, termasuk pimpinan sekolah, madrasah, pesantren maupun perguruan tinggi, dari mulai rector, wakil rector, dekan, wakil dekan, ketua jurusan, atau direktur dan kepala lembaga.

Bilamana kepemimpinan suatu lembaga adalah baik dan professional, maka dapat diharapkan akan membawa hasil yang positif dan berkemajuan bagi lembaga yang dipimpinnya. Begitu pula sebaliknya, bila kepemimpinannya jelek serta amatiran, maka dapat berdampak pada kemunduran lembaga tersebut. Walaupun maju-mundurnya suatu lembaga itu tidak hanya ditentukan oleh satu faktor saja, yakni kepemimpinan, namun kepemimpinan itu ibarat kepala dalam organ tubuh, dengan konsep-konsep yang berpusat di otak yang mampu mengendalikan seluruh gerak organ tubuh tersebut. Jika pusat syaraf otak yang ada di kepala tersebut rusak atau malfungsi, maka timbullah berbagai penyakit dalam organ tubuh tadi.

Bagaimana pandangan Islam terhadap masalah kepemimpinan? Dalam kaitan ini, Al-Qur’an menyebutkan beberapa istilah yang sepadan dengan makna pemimpin, di antaranya adalah: iman, ulil amri, wali, khalifah, malik, dan lainnya. Dalam kesempatan yang terbatas ini hendak dijelaskan tiga istilah saja, yaitu: IMAM, ULIL AMRI dan WALI. Pertama, IMAM adalah pemimpin atau teladan, sebagaimana bisa dipahami dari QS. Al-Baqarah: 124, yaitu:

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, maka Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu IMAM bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mendapatkan orang-orang yang zalim”.

Menurut Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah Volume 1, ayat di atas mengisyaratkan bahwa kepemimpinan dan keteladanan haruslah berdasarkan kepada KEIMANAN DAN KETAQWAAN, PENGETAHUAN, dan keberhasilan dalam ANEKA UJIAN. Dengan demikian, Islam menilai bahwa kepemimpinan bukan hanya sekedar kontrak sosial, yang melahirkan janji dari pemimpin untuk melayani yang dipimpin sesuai kesepakatan bersama serta janji ketaatan dari yang dipimpin kepada pemimpin, tetapi juga harus terjalin hubungan yang harmonis antara yang diberi wewenang mempimpin dan TUHAN, yaitu berupa janji untuk menjalankan kepemimpinan sesuai dengan nilai-nilai yang diamanatkan-Nya. Dari sini, dipahami bahwa ketaatan kepada pemimpin tidak dibenarkan jika ketaatan itu bertentangan dengan nilai-nilai ILAHI.[3]

Terkait dengan ANEKA UJIAN bagi pemimpin atau IMAM, Thaba’thaba’i memaknai kalimat ?????? ????????? ???????????? ??????? ??????????? menunjukkan bahwa imamah itu diberikan kepadanya (Nabi Ibrahim AS) setelah Allah mengujinya dengan ujian-ujian tertentu, termasuk bermacam cobaan yang dialami Nabi Ibrahim AS dalam hidupnya, dan ujian yang paling jelas dan dahsyat adalah pengorbanan terhadap putranya Ismail AS (lihat QS. Ash-Shaffat: 102-106).[4] Sebagian ulama menyebutkan jumlah ujian tersebut ada sepuluh macam, bahkan ada yang mengatakan empat puluh macam. Diduga kuat kata ??????????? merupakan perintah dan larangan tertentu yang cukup berat, namun Nabi Ibrahim AS menyempurnakannya ?????????????? , dan karena keberhasilannya itu Allah menjadikan Nabi Ibrahim AS sebagai IMAM bagi seluruh manusia. Menurut Thaba’thaba’i, status IMAM ini berbeda dengan NUBUWAH karena Nabi Ibrahim AS sudah menjadi Nabi sebelum dijadikan sebagai IMAM.

Kedua, kata ULIL AMRI sebagaimana termaktub dalam QS. An-Nisa: 59, yaitu:

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ULIL AMRI di antara kamu. Maka, jika kamu tarik-menarik pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah is kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian. Yang demikian itu baik dan lebih baik akibatnya.”

ULIL AMRI dalam ayat tersebut dapat diartikan sebagai orang-orang yang berwenang mengurus urusan kaum muslimin. Mereka adalah orang-orang yang diandalkan dalam menangani persoalan-persoalan kemasyarakatan, seperti para penguasa/pemerintah, ulama, dan berbagai wakil masyarakat dalam kelompok maupun profesi. ULIL AMRI bisa berbentuk jamak maupun tunggal. Katakanlah seorang polisi lalu lintas yang mendapat tugas dan pelimpahan wewenang dari atasannya untuk mengatur jalan raya, ketika menjalankan tugas tersebut dia berfungsi sebagai salah seorang ULIL AMRI. Hal ini sejalan dengan Hadist Nabi SAW yang menyatakan bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggungjawab atas kepemimpinannya,

Ketiga, kata WALI sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Maidah: 55, yaitu:

“Sesungguhnya WALI kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka rukuk.”

Kata WALI dalam ayat di atas menunjukkan pada Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman. Sumber pokoknya adalah satu, sedangkan Rasul dan orang-orang yang beriman pada hakikatnya menjadikan Allah sebagai WALI. Ini menunjukkan bahwa hierarki kepemimpinan dalam Islam menuju pada sumber pokok yaitu Allah, sedangkan kewalian manusia adalah tidak keluar dari aturan dan nilai-nilai dari sumber pokok tersebut.

Ma’asyiral Muslimin rahimakum Allah, sidang Jumat yang dimuliakan Allah,

Jika diperhatikan ketiga penggunaan kata IMAM, ULIL AMRI dan WALI dalam beberapa ayat Al-Qur’an tersebut nampaklah bagi kita criteria dan karakter pemimpin dalam pandangan Islam, yaitu: pertama, seorang pemimpin hendaknya telah teruji keperibadian dan kemampuannya sebelum layak ditunjuk sebagai calon pemimpin, dimana ujian tersebut beraneka macam dan berat, bahkan menunjukkan sikap pengorbanan serta dedikasi yang tinggi terhadap profesinya. Pemimpin yang tidak teruji dan tanpa melakukan pengorbanan tentulah akan menghasilkan mutu kepemimpinan yang rendah, dan bisa jadi mementingkan dirinya sendiri. Hasil ujian kepemimpinan tersebut berdampak pada saat ia menjalankan amanat kepemimpinan, sebagaimana dibuktikan dengan adanya kemajuan lembaga yang dipimpinnya. Karenanya pemimpin adalah PEMIMPI yang memiliki cita-cita dan keinginan tinggi terhadap lembaga yang dipimpinnya, dan berupaya mewujudkan MIMPI-MIMPI tersebut menjadi kenyataan.

Kedua, pemimpin dapat berupa kelompok maupun individu, dimana setiap orang bertanggungjawab terhadap kepemimpinannya menurut profesinya masing-masing. Kinerjanya merupakan amanat yang akan dipertanggungjawabkan baik kepada yang dipimpinnya maupun kepada Allah SWT kelak di akhirat, mengingat kepemimpinan dalam Islam tidaklah sekedar kontrak social melainkan amanat dari Allah SWT.

Ketiga, kepemimpinan dalam pandangan Islam menuntun pemimpinnya untuk menyelesaikan urusan mereka dengan merujuk pada sumber pokok nilai-nilai dan ajaran ketuhanan, keimanan, dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Ketaatan kepada Allah oleh seorang pemimpin tercermin dari sikap dan perilaku serta akhlaknya sehari-hari dan kedekatannya dengan MASJID, karena kepemimpinan dalam pengertian WALI tersebut di ayat tadi mendekatkan kata WALI dengan ibadah shalat, zakat dan rukuk.

Ma’asyiral Muslimin rahimakum Allah, sidang Jumat yang dimuliakan Allah,

Akhirnya, saya mengajak kepada kita semua untuk menjadikan akhlak mulia dan keteladanan serta tanggungjawab dalam setiap kepemimpinan kita dimanapun kita berada, apakah di rumah, kantor, kampus atau sekolah, maupun dalam pergaulan di tengah masyarakat. Dengan cara seperti itu berarti kita telah ikut serta berperan dalam membangun keluarga, masyarakat dan bangsa serta berhasil dalam menjalankan kepemimpinan. Dengan kita menjaga nilai-nilai kepemimpinan yang baik dan profesional tersebut berarti kita sebagai umat Islam telah ikut ambil bagian dalam membangun umat dan bangsa yang positif, bermartabat, dan berkemajuan. Amin 3x yaa Rabbal Alamin...

======= khotbah kedua (doa) ========

Ed: Diki


[1] Disampaikan dalam khotbah Jumat 6 Maret 2015 di Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

[2] Guru Besar Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, dan Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

[3] Quraish Shibab, Tafsir al-Mishbah Vol.1, Jakarta: Lentera Hati, 2002, hal. 378-379.

[4] Thaba’taba’I, Tafsir Mizan, Jakarta: Firdaus, 1991, hal. 4-6.

Kolom Terkait

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom