KARAKTER DAN NASIONALISME BANGSA oleh Dr. H. Abdul Mustaqim, M.Ag
Sabtu, 10 Oktober 2015 20:32:14 WIB
Dilihat : 1044 kali

Saudara-saudaraku kaum muslimin yang berbahagia

Al-Hamdulillah, marilah pada kesempatan ini kita bersyukur kepada Allah Swt yang atas izin dan pertolongan-Nya, kita semua dapat menghadiri sholat Jumat di Masjid Agung Yogyakarta. Semoga Allah Swt berkenan menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita dan senantiasa memberkahi hidup kita. Amin ya Mujibas-Sa’ilin

Saudara-saudaraku, melalui khutbah ini, marilah kita semua menyadari bersama bahwa hakikat hidup ini adalah kesempatan untuk berbuat baik, kesempatan untuk beribadah. Untuk itu, apapun profesi kita, yang penting tidak menyalahi syariat, jadikanlah semua itu sebagai sarana untuk pengabdian kita kepada Allah Swt. Sebab memang desain awal penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka beribadah (Q.S. al-Dzariyat: 56). Dan, perlu kita sadari bersama bahwa cepat atau lambat kita semua juga akan sowan menghadap Allah Swt, Semua akan kita tinggalkan dan kita tanggalkan. Keluarga, harta benda, jabatan dan poularitas pada saatnya juga harus kita tinggalkan. Ketika itu, tidak ada bekal yang paling baik, kecuali bekal iman dan takwa kita kepada Allah Swt. Al-Qur’an menegaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 197.

Artinya: Berbekallah kalian semua, maka seseungguhnya bekal yang paling baik (menghadap Allah Swt) adalah bekal takwa. Bertakwalah kalian semua kepada-Ku, wahai orang-orang yang memiliki pikiran yang jernih. (Q.S. al-Baqarah [2]: 197).

Sidang Jum’ah Kaum Muslimin yang berbahagia

Sesungguhnya dalam ibadah yang diajarkan Islam baik itu zikir, shalat, zakat, puasa, haji dan sebagainya harus membuahkan karakter dan moralitas. Ibadah-ibadah ritual yang tidak membuahkan keluhuran moralitas (al-akhlaq al-karimah) sesungguhnya hanya akan menjebak kita semua dalam simbolisme beragama yang semu. Padahal salah satu inti ajaran agama adalah etik-akhlaq/karakter, tidak ada agama bagi yang tidak punya etika. Al-din huwa al-khuluq, lâ dîna liman la khuluq lahu.

Rasulullah Saw pernah ditanya:

Artinya:Dari Abu Hurairah, dia berkata: Nabi Saw pernah ditanya, apa yang kebanyakan mengantarkan manusia masuk surga? Beliau menjawab: taqwa kepada Allah Swt dan akhlak yang baik. (Kemudian Nabi Saw) juga ditanya, apa yang kebanyakan menyebabkan manusia masuk neraka? Beliau menjawab: (dosa) yang dilakukan perut, mulut dan farji. (H.R. Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibbân Juz II, hlm. 224).

Saudara-saudaraku, sesungguhnya semua persoalan di negeri ini, bahkan juga di dunia, ujung-ujungnya adalah karena kita sedang mengalami krisis karakter. Tindakan korupsi, manipulasi, konflik dan aksi kekerasan, tawuran pelajar, perselingkuhan , illegal logging, penambangan liar, yang akan membahayakan bagi lingkungan alam kita lain sebagainya adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa masyarakat kita sedang mengalami krisis karakter. Untuk itu, membangun bangsa ini harus diawali dengan upaya membangun karakter, melalui revolusi mental. Hal itu harus dimulai dengan diri sendiri, melalui keteladanan, baik dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat dan berbangsa bernegara.

Saudaraku, boleh jadi para pelaku tersebut juga beragama bahkan mungkin Islam, karena muslim di Indonesia memang mayoritas. Ini adalah fenomena yang sangat ironis dan paradox. K.H. Hasyim Muzadi (mantan ketua PBNU) pernah bercerita, ada seorang pencuri yang mencuri spion mobil di Surabya. Ketika tertangkap polisi, ia diinterogasi. Lho sampaen ini agamanya apa? Dengan tegas ia menjawab: Islam Pak. La kok nyolong, nah itu profesi saya Pak. Jadi, rupanya ada split of personality dalam jiwanya. Islam belum menjiwai dalam dirinya, sehingga perilakunya masih bertentangan dengan Islam yang dianutya. Padahal karakter dasar Islam adalah damai dan menebar nilai-nilai perdamaian. Segala bentuk tindakan yang bertentangan dengan nilai perdamaian, jelas bertentangan dengan Islam.

Kaum muslim, sidang jum’ah yang berbahagia.

Sisi lain, kita juga dihadapkan dengan fakta bahwa kita ini adalah masyarakat majemuk yang multikultur, baik etnis, budaya maupun agamanya. Untuk itu kita juga kita harus pandai merawat kemajemukan, salah satunya dengan menumbuhkembangkan sikap sikap tasamuh (toleransi). Kita harus pandai menghormati dan menghargai orang lain yang berbeda dengan kita. Tanpa adanya sikap tasamuh (toleransi) yang tinggi, tidak mustahil kemajemukan akan memicu dan memacu terjadinya ketegangan, bahkan konflik di masyarakat yang akan mengancam NKRI. Di sinilah para ulama dan para umara, para politisi juga perlu memberikan keteladanan demi terciptanya kerukunan dan kebersamaan diantara kita. Jangan sampai kebhinnekaan kita kehilangan tunggal ikanya (kesatuan). Kita memang berbeda tetapi tetap satu, kita tetap satu meski berbeda-beda. Satu nusa, satu satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia yang saling menghormati dan menghargai terhadap perbedaan yang ada.

Kita harus menyadari bahwa konflik yang berkepanjangan hanya akan membuat hidup kita bertambah sengsara dan terpuruk. Sebaliknya, kalau kita mau saling hormat-menghormati, menghargai satu sama lain, tidak suka memaksakan kehendaknya terhadap orang lain dengan cara kekerasan, niscaya hidup ini akan terasa, damai, aman, tenang dan tentram. Untuk itu, budayakan dialog dan musyawarah yang baik, nisacya akan mampu memecah kebuntuan komunikasi. Bukankah kita telah diajarkan doa yang sangat indah ?. Allâhumma anta al- salâm, wa minka al-salâm, wa ilaika ya’ûdu al-salâm fahayyina, rabbanâ bi al-salâm, wa adkhilnâ al-jannata dâr al-salâm.

Inti dari doa tersebut adalah bahwa kita mendambakan salâm (damai/selamat) dan hal itu tidak akan kita capai apabila perilaku kita bententangan dengan semangat perdamaian. Ini sesuai dengan hadis Nabi Saw riwayat Imam al-Bukhari-Muslim: bahwa tolok ukur kualitas keislaman seseorang adalah sejauh mana orang itu mampu menciptakan rasa aman, damai dan selamat kepada pihak lain. Rasulullah SAW bersabda:

Pendek kata. segala bentuk tindakan yang bertentangan dengan nilai kedamain adalah bertentangan dengan Islam. Sebab Islam datang tidak lain sebagai penebar rahmat bagi semua orang (Q.S. al-Anbiya: 107). Untuk itu pula, kebijakan para pemimpin harus selalu didasarkan pada prinsip kemaslahatan rakyat. (Tasharruful imam manuthun bil mashlahah). jangan sampai kebijakan kita membuat rakyat resah dan gelisah. Sebagai anggota masyarakat, jangan sampai kita berbuat hal-hal yang menyebabkan keresahan dan kerusuhan, apalagi melakukan aksi kekerasan agama. terorisme, violence in the name of Islam yang justru merugikan umat Islam sendiri dan bangsa Indonesia secara umum. Sebab semua itu bertentangan dengan nilai universal Islam yang sangat mendambakan damai dalam kehidupan dan hidup dalam kedamaian. Dari sinilah maka trilogy yang harus menjadi komitment kita bersama; adalah bahwa: Muslim itu orangnya, Islam itu manhaj (jalannya), Salam (damai) itu target dan tujuannya.

Kekerasan dan konflik yang mengatasnamakan agama, jelas sangat tidak relevan, mengingat persoalan-persoalan sosial-kemanusiaan, seperti korban musibah banjir, korban gempa, penggusuran, pengangguran, kemiskinan, krisis moral yang menimpa bangsa ini tidak bisa diselesaikan oleh penganut agama tertentu, melainkan memerlukan kerja sama yang baik diantara umat beragama. Hal itu tidak mungkin dilakukan, jika para pemeluk agama tenggelam dalam konflik yang berkepanjangan

Mengakhiri khutbah ini, marilah kita semua tancut taliwonda, bersama-sama bekerja keras untuk membangun bangsa ini sesuai dengan profesi kita masing-masing. Umara, ulama dan rakyat harus bekerja sama demi tegak dan jayanya bangsa ini. Yang jadi rakyat, jadilah rakyat yang baik, boleh bersikap kritis, tetapi tetap harus etis. Yang menjadi pejabat atau pegawai jadilah pejabat dan pegawai yang siap melayani rakyatnya dengan baik. Sebab ia dibayar memang untuk melayani rakyat. Yang menjadi pedagang jadilah pedagang yang jujur. Jangan membuat keresahan di masyarakat. Yang menjadi guru-dosen, didiklah para murid dan mahasiwa agar menjadi orang yang pinter dan berkarakter. Pendek kata, lakukan yang terbaik untuk bangsa ini, sebagai wujud terimakasih kita dan pengabdian kita kepada Allah Swt. Jangan pernah berputus asa, sebab putus asa adalah dosa. Agama selalu mendorong kita untuk selalu optimis dalam memperjuangkan cita-cita dan harapan. Tantangan, rintangan dan hambatan memang pasti ada. Namun dengan kesungguhan, kesabaran, kebersamaan dan pertolongan Allah Swt, niscaya harapan dan cita-cita membangun negeri ini akan menjadi kenyataan. Amîn-amîn yâ Mujibas Sâ’ilin.

Yang terakhir, saudara-saudaraku, sekarang ini kita juga dihadapkan dengan fenomena melemahnya nasionalisme bangsa ini. Dulu, al-Marhum Bung Karno, pernah berkata, “bahwa setelah kalian merdeka, kalian bukan lagi berhadapan dengan para penjajah, namun kalian akan berhadapan dengan bangsamu sendiri. Sekarang ada paham-paham “keagamaan baru” yang sengaja digulirkan untuk mengacak-acak ideologi negara kita Pancasila. Seolah-olah kalau semakin Islami itu harus semakin anti Pancasila, anti UUD 45, anti NKRI. Lalu menganggap bahwa menyanyikan lagu bagimu negeri haram, tidak lagi mau menyanyikan lagu kebangsaan hormat bendera sebagai syirik, Semua itu, disebabkan oleh karena pengaruh ideology trans nasional dan pemahaman agama yang sempit. Tengoklah kisah dalam al-Qur’an, bukankah Allah Swt pernah 'menyuruh para malaikat bersujud kepada Adam. Mereka bersujud dihadapan Adam, jelas tidak untuk menyembah Adam, tetapi sekedar menghormat Adam sebagai calon khalifah di muka bumi ini.

Pancasila dan UUD. 45 sesungguhnya tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan hadis. Bahkan lima sila semuanya disarikan dari nilai-nilai ajaran Islam, yakni: Ketuhanan (Tauhid), kemanusian, persatuan, musyawarah, keadilan sosial. Pancasila dan UUD. 45 bukanlah agama, ia adalah hasil ijtihad para pendiri bangsa ini yang sudah menjadi kesepakatan bersama sebagai dasar ideologi berbangsa dan bernegara. Maka melanggar janji kesepakat justru bertentangan dengan al-Qur’an, Q.S. al-Nisa’: 107, al-Mukminun; 8, al-Ma’arij: 3). Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggung jawabannya. (Q.S. al-Isra’: 34.)

Untuk itu, sekali lagi kami mengajak kepada semua umat Islam dan semua elemen masyarakat bangsa ini, untuk kembali meneguhkan semangat nasionalisme yang dibingkai oleh nilai-nilai karakter bangsa Indonesia. We are Indonesian moslems dan moslems-indonesian. Sebab tegak dan jayanya bangsa ini juga sangat tergantung pada seberapa jauh bangsa ini memegang nilai-nilai karakter dan nasionalisem bangsa itu sendiri. Oleh sebab itu, mengabaikan nilai-nilai moral dan nasionalisme sama dengan “menandatangani kontrak” bagi kehancuran bangsa ini.

Kolom Terkait

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom