KESANTUNAN, CARA NABI MENUNTUT HAK Oleh Dr. Ustadzi Hamzah, M.Ag
Sabtu, 10 Oktober 2015 20:45:50 WIB
Dilihat : 840 kali

Assalâmu’alaikumWr.Wb.

Jama’ah yang dirahmati Allah,

Rasulullah SAW adalah manusia yang mempunyai derajat akal yang disebut oleh para filosof seperti al-Farabidan Ibn Sinadengan al-‘aqlal-mustafad, yakni akal yang mampu menangkap informasi dan kehendak Allah secara pasti. Oleh karena itu, apa yang dikatakan, dilakukan, dan dipikirkan oleh Rasulullah adalah di bawah kendali Allah SWT. Dalam hal ini, marilah kita “berguru” pada Sang Guru Agung Rasulullah SAW dalam kita menjalani kehidupan di dunia yang sangat indah ini.

Tahun kedua hijrah, tepatnya pada bulan Rajab terjadi sebuah peristiwa perpindahan kiblat dalam sejarah umat Islam. Kiblat salat yang sebelumnya BaitulMaqdis di Yerusalem pada tahun ini berubah atas izin Allah kembali ke Baitullah (ka’bah) di Makah. Peristiwa ini terekam dalam hadis Rasulullah,

????????? ?????? ??????? ??????? ????????? ??????? ????????? ? ???????? ?????? ?????? ? ???????? ?????? ??????? ?????? ?????? ? ??????? ????? ?????? ???????? ? ?????? ?????????? ??????? ???????? ????????? ?????? ????????? ???? ??????? ??????? - ??? ???? ???? ???? - ?????? ??????? ? ????????? ????? ???? ?????? ?????????

Rasulullah SAW pertama kali melaksanakan shalat dengan menghadap Ka'bah adalah shalat Asar yang dilaksanakannya secara berjamaah. Kemudian salah seorang yang selesai bermakmum kepada Nabi keluar dan pergi melewati sebuah masjid pada saat jamaahnya sedang ruku' menghadap BaitulMaqdis. Lantas orang itu berkata, "Demi Allah, baru saja saya shalat bersama Rasulullah SAW menghadap ke Baitullah di Makkah." Maka dengan segera mereka mengubah kiblat menghadap ke Baitullah.

“Seseorang” yang disebut dalam hadis tersebut adalah Abbad bin Bisyr, sedangkan jamaah salat Asar tersebut adalah Bani Salamah. Peristiwa ini sungguh agung sehingga setiap kita tidak boleh melupakannya sedikitpun.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Apakah kita pernah memperhatikan apa di balik peristiwa itu? Apa yang bisa kita teladani dari latar belakang yang melandasi peristiwa itu? Tentu kita juga tidak boleh lupa sedikitpun atau bahkan melalaikan sekejap pun!

Untuk mencari keteladanan dari Rasulullah itu, kita tidak sedang membicarakan bagaimana perpindahan kiblat itu, tetapi value yang ada di balik perpindahan kiblat itu.

Sejarah perpindahan kiblat tidak terjadi begitu saja, namun dilatarbelakangi oleh sebuah perjalanan panjang sekitar 16-17 bulan.

Makkah, dalam sejarah Islam merupakan “segala-galanya”. Target perjuangan Rasulullah adalah Makah. Beliau lahir di Makah, awal berjuang di Makah, dan akhir perjuangan adalah Makah –yakni peristiwa FathMakah. Dengan kata lain Makah adalah “target” perjuangan, karena posisi Makah sangat strategis baik dari aspek teologis, politis, dan sosiologis.

Dalam konteks teologis, Makah merupakan Baitullah yang dibangun oleh manusia yang pertama kali, yakni dibangun oleh Nabiullah Ibrahim –Bapak Tauhid, ajaran para Nabi. Atas dasar hal inilah Rasulullah sangat berhak untuk “menyatu” dengan “ruh” Makah, yakni ketauhidan dan peribadatan. Oleh karena itu, ketika arah kiblat dirubah ke Baitulmaqdis di Yerusalem ada semacam “kekecewaan” Rasulullah. Namun, sebagai seorang yang agung, beliau tetap tunduk dan taat kepada Allah, sebagaimana ketaatan Ibrahim untuk menyembelih putranya Ismail.Ketundukan ini juga harus diiringi dengan cercaan dan cemoohan orang-orang Yahudi. Rasulullah tetap keukeuh dengan sikap istiqamahnya!

Makah bagi Rasulullah adalah hak teologis, politis, dan sosiologis, karena Makah adalah warisan dari Ibrahim! Maka, selama 16-17 bulan Rasulullah “merasa” haknya dikurangi. Namun, apa yang dilakukan oleh Rasulullah? Beliau tidak pernah menunjukkan sikap yang mencolok untuk dikembalikan haknya tersebut. Yang dilakukan oleh Rasulullah adalah selalu menengadahkan wajah ke langit sebagai tanda “permohonan” kepada Allah supaya menurunkan wahyu untuk mengembalikan kiblat ke Makah kembali. Sikap ini terkam dalam al-Qur’an,

???? ?????? ????????? ???????? ??? ??????????? ?????????????????? ???????? ??????????? ??????? ???????? ?????? ??????????? ??????????? ???????? ??? ??????? ????????? ??????????? ????????? ??????? ????????? ??????? ?????????? ????????????? ??????? ???????? ??? ??????????? ????? ??????? ????????? ?????? ??????????? [?:???]

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah adalah sebuah puncak kesantunan dalam menuntut hak.Cara menengadah ke langit adalah bahasa nun verbal yang mencerminkan sebuah kesantunan. Dalam perspektif keilmuan kini, misalnya Psikologi Komunikasi, Penelope Brown dan Stephen Levinson mengungkapkan dalam karyanya Politeness: SomeUniversalsinLanguageUsage (1987) bahwa politeness(kesantunan) dalam berkomunikasi merupakan sebuah “sikap” yang tidak meninggalkan ancaman bagi pihak-pihak yang terlibat dalam relasi komunikasi itu. Oleh karena itu, Brown &Levinson mengatakan bahwa kesantunan yang positif akan memberikan “kesan” yang baik terhadap semua pihak yang terlibat.

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah merupakan sebuah komunikasi nun-verbal yang menunjukkan sebuah kenyamanan bagi siapa saja. Sekarang, bagaimana kita sebagai umat Rasulullah meneladani beliau dalam menuntut hak? Apakah dampak langsung salawat kita siang dan malam jika selalu menunjukkan ketidaksantunan dalam menuntut hak sementara Rasulullah yang kita shalawati mencontohkan sebuah kesantunan?!

Tentu jawaban dari pertanyaan itu terpulang kepada kita semua. Apakah kita akan santun atau tidak sementara kita mengaku umat Rasulullah dan menunggu syafa’atnya. Oleh karena itu, marilah siang hari ini kita mantabkan untuk mencontoh pribadi Rasulullah Yat selalu menunjukkan kesantunan dalam menuntut hak dengan meninggalkan kenyamanan bagi semuanya.Wallâhua’lam.

Bârakallâhulîwa lakum wajamî’ilmuslimîn,Wastaghfirullâhal-‘Adhîm

Kolom Terkait

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom