khutbah gerhana matahari oleh Prof. Dr. Machasin, MA (Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Sabtu, 12 Maret 2016 17:41:47 WIB
Dilihat : 925 kali

KHUTBAH
GERHANA MATAHARI DARI KEMENTERIAN AGAMA RI@

Jamaah Rahimakumullah,

Marilah kita sama-sama meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah swt. dengan sebenar-benar taqwa, yaitu istiqamah dalam mengerjakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Dengan demikian, mudah-mudahan kita akan menjadi umat yang terbaik dan unggul serta mendapat keridaan Allah swt di dunia dan di akhirat.

Jamaah Rahimakumullah,

Allah berfirman dalam surah al-Imran ayat 190-191:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS Ali Imran:190-191).

Memang yang disebut di sini sebagai obyek pemikiran para pemilik pemikiran yang mendalam itu (ul? al-alb?b) hanyalah penciptaan langit dan bumi. Akan tetapi, itu mencakup semua fenomena alam, baik alam kudrat maupun alam yang sudah diolah manusia. Semuai itu adalah ciptaah Allah, sedangkan Dia adalah al-Ghaib, sang maha Rahasia yang jauh dari kemampuan manusia untuk membayangkannya, tetapi Maha dekat yang lebih dekat dari urat leher.

Seorang pemikir agama berkebangsaan Jerman, Rudolf Otto (1869-1937), menyebut menemukan konsep tentang Tuhan sebagai:mysterium tremendum et fascinans. Sebagaimysterium, Tuhan berbeda sama sekali dari wujud yang dapat dialami manusia; diatremendum, menimbulkan rasa takut dengan kekuasaan-Nya yang maha besar. Akan tetapi, Dia jugafascinans, maha rahim dan maha lembut menarik orang untuk mendekat.

Gerhana matahari sebenarnya merupakan peristiwa biasa, natural dalam tata alam falak, yang terjadi menurut sunnatullah, tanpa ada kaitan dengan nasib baik atau buruk seseorang, kematian atau kehidupannya. Akan tetapi, karena frekuensi kejadiannya yang sangat jarang, lalu terasa aneh dalam kesadaran manusia. Itulah salah satu sebab mengapa kita menjalankan salat sunnah pada peristiwa yang “aneh” ini. Itu mengingatkan kita kepada Sang Pencipta dan Pemelihara Tata Falak yang ajeg, tidak berubah atau berubah dalam pola yang ajeg; berkembang dengan keteraturan yang dapat diamati atau dihitung.

Seorang beriman melihat semua itu sebagai tanda-tanda akan kebesaran Allah yang berpengaruh pada perilakunya, pengaruh baik. Nabi berpesan agar setiap mukmin mengambil pelajaran dari setiap hal yang dilihat. Diriwayatkan bahwa beliau berdoa:

Ya Allah, Engku telah buat indah penciptaanku, buatlah indah perilakuku (juga).

Hanya ulil albaab (orang-orang yang berfikir dengan iman) yang mau merenungi makna gerhana dan mengambil hikmahnya. Gerhana kadang tampak menakutkan. Secara perlahan matahari menjadi gelap sebagian, lalu selama beberapa saat matahari berada pada fase gelap total, dan kemudian secara perlahan kembali pada wujudnya yang cemerlang. Seolah matahari “dimakan” sesuatu yang luar biasa. Saat siang sinar matahari tiba-tiba gelap. Muncullah berbagai mitos di berbagai masyarakat. Sebagian masyarakat ada yang percaya dengan mitos bahwa saat gerhana matahari dimakan raksasa sehingga orang-orang memukul berbagai benda untuk mengusir raksasa itu. Dan itu dianggap berhasil ketika matahari kembali benderang.

Di dalam hadits Abû Burdah dari Abû Mûsâ Radhiyallâhu ‘anhu, dikisahkan peristiwa gerhana di Madinah:

“Ketika terjadi gerhana matahari, Nabi Saw. langsung berdiri terkejut dan merasa ketakutan kiamat akan datang. Beliau pergi ke masjid dan melakukan salat yang panjang berdiri, ruku’, dan sujudnya. Setelah itu Nabi bersabda,

“Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah tanda-tanda kebesaran Allah; keduanya menjadi gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kalian melihat sesuatu dari gerhana, maka bersegeralah berdo’a kepada Allah memohon ampunan-Nya, bertakbirlah dan dirikanlah shalat dan bersedakahlah.” (Muttafaq ‘Alaihi)

Jamaah Rahimakumulah,

Sains menjelaskan fenomena yang sesungguhnya. Sains menghilangkan mitos dan meneguhkan keyakinan akan kekuasaan Allah. Sikap seorang beriman menghadapi itu digambarkan dengan ucapan “Rabban? m? khalaqta h?dz? b?thilan” ini tidak Engkau ciptakan tanpa tujuan yang sangat berarti. Karena itu “sub??nak” Maha Sucilah Engkau; “fa-qin? ‘adz?b al-n?r” lindungilah kami dari siksa api. Kekaguman akan penciptaan apa saja membuat manusia menyadari akan kelemahannya di hadapan Tuhan yang Maha Kuasa, yang mencipta dan menjaga Alam Raya dengan keteraturannya itu, namun sering kali merasa besar kepala karena melihat dirinya kuat, tidak membutuhkan pertolongan,

Tidak. Sungguh manusia itu mempunyai tabiat melanggar batas, gumendhung, karena melihat dirinya tak memerlukan bantuan.

Jadi, semestinya kemudian seorang mukmin menyatakan kepada Allah, (Ampunilah segala kesalahan kami yang kadang-kadang melampaui batas kepatutan dan) peliharalah Kami dari siksa neraka.

Jama’ah kaum Muslimin yang diberkati Allah,

Fenomena alam ini semestinya juga mengingatkan kita betapa banyak hal yang telah lewat tanpa perhatian kita yang serius, sementara orang lain sudah banyak berbuat. Berapa banyak karya kita kaum Muslimin yang bermanfaat untuk umat manusia akhir-akhir ini atau setelah perginya orang-orang seperti Ibn Sina yang menorehkan karya besar dalam ilmu kedokteran, al-Khwarizmi dalam ilmu pengetahuan alam, Ulugh Bey dalam astronomi, Ibn Khaldun dalam sosiologi? Mengapa kini yang ramai justru sikap saling menyalahkan dan klaim kebenaran pada kelompok-kelompok dan mazhab-mazhab? Sementara ini pemimpin kita, Nabi Muhammad saw bersabda manusia terbaik adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada kemanusiaan

Gerhana ini semestinya mengingatkan bahwa dari segi kemanfaatan bagi umat manusia, kita belum banyak berbuat. Kebanyakan kita bahkan masih menjadi problem bagi umat manusia. Seakan-akan kita berada dalam gerhana total panjang yang tidak ketahuan kapan akan berakhir. Perpecahan, perebutan pengaruh dan penistaan martabat manusia sudah lama terjadi di negeri-negeri Islam: Lybia, Syria, Yaman, Afghanistan, Sudan, Afrika Tengah, Nigeria dan lain-lain. Di sini juga tidak jarang orang mengikuti sikap mengkafirkan sesama ahlul qiblah. Mari kita teguhkan keyakinan kita bahwa itu tidak diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya; kita ingatkan yang sedang lupa, kita beritahu yang belum mengerti bahwa Islam menganjurkan kelembutan, sikap memaafkan dan mengajak kepada jalan Alan, jalan pengontrolan terhadap diri sendiri.

Khutbah Kedua

Jamaah Rahimakumulah,

Allah SWT berfirman dalam surah al-Qiyamah ayat 6-12:

“Dia bertanya, “Kapankah hari kiamat itu?,” Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan bulan pun telah hilang cahayanya, lalu matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata, “Ke mana tempat lari?” tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhan-Mu tempat kembali pada hari itu.”

Setelah kita melaksanakan shalat gerhana dan merenungi hikmah di balik itu, marilah kita akhiri khutbah ini dengan mohon ampunan dan mohon kekuatan untuk menjejaki kehidupan kita selanjutnya.

Yogyakarta, 9-3-2016

Machasin


@Direvisi dan dikhutbahkan di Laboratorium Agama, Masjid UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Kolom Terkait

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom